Budidaya Jamur Manfaatkan Limbah Tongkol Jagung di Tengah Pandemi

Dompu – Sejumlah pemudadi RT. 02 Lingkungan Karijawa Selatan Kelurahan Karijawa Kecamatan Dompu Kabupaten Dompu, NTB memanfaatkan limbah tongkol jagung untuk membudidaya jamur.

Limbah tongkol jagung digunakan sebagai media budidaaya dalam proses fermentasi jamur.

Kegiatan positif yang dilakukan sejumlah pemuda ini sangat inspiratif dan produktif di tengah-tengah pandemi Covid-19 melanda.

Limbah tongkol jagung yang selama ini hanya dicampakkan begitu saja pasca panen, kini dimanfaatkan untuk menambah income.

Dhian purba, salah seorang di antara pemuda setempat mengaku senang bisa memanfaatkan waktu luang untuk budidaya jamur dengan memanfaatkan limbah tongkol jagung.

“Alhamdulillah meskipun di tengah wabah Covid -19 ini kami bisa dapat uang tiap hari hasil penjualan jamur,” ungkapnya saat ditemui, di Dompu, Kamis.

Ia mengaku sebelum melakukan budidaya jamur ini bersama teman-temannya hanya menghabiskan waktu dengan gadget atau duduk nongkrong yang tidak mendatangkan manfaat.

Namun kini mereka sibuk melakoni kegiatan positif yang mendatangkan hasil untuk membantu keuangan keluarga.

Ide brilian untuk mengembangkan budidaya jamur dengan pemanfaatan limbah tongkol jagung ini muncul dari sosok bernama Arifuddin, warga setempat. Gagasan itu muncul sekitar 2 bulan lalu sebelum memasuki Bulan Suci Ramadhan 1441 H.

Arif mengaku prihatin melihat anak-anak muda yang menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan cenderung negatif.

Di sisi lain ia merasakan pandemi wabah Covid -19 memberikan dampak terhadap kondisi perekonomian masyarakat yang kian terpuruk.

Di balik itu, sang inspirator ini melihat di Kabupaten Dompu dengan program jagungnya mengakibatkan limbah tongkol jagung melimpah di mana-mana dan hanya dibiarkan atau dibakar begitu saja oleh petani tanpa dimanfaatkan untuk keperluan apapun.

“Akhirnya saya temukan di youtube budidaya jamur dengan memanfaatkan limbah jagung dan saya langsung mulai uji coba sebelum puasa lalu,” ucapnya.

Sosok yang biasa disapa Pak Mas ini menyebut setelah uji coba yang dilakukannya sukses, pemuda-pemuda akhirnya setempat tergerak hatinya untuk mengikuti. Walhasil kini sudah ada beberapa lokasi yang membuat kumbung (bedengan) sebagai wadah (media) budidaya jamur dengan memanfaatkan limbah tongkol jagung tersebut.

“Alhamdulillah saya merasa sangat bahagia karena pemuda-pemuda di sini sudah disibukkan dengan kegiatan positif yang mendatangkan hasil,” tuturnya.

rif menyebut pemanenan jamur dikakukan 2 kali sehari yakni pagi dan sore.
“Bahkan malam hari juga dipanen soalnya jarak 3 atau 4 jam sudah bisa dipanen. Kalau terlambat jadi hitam,” kata Arif.

“Kalau masalah pemasaran tidak pernah kesulitan karena konsumen langsung datang membeli ke sini. Bahkan sampai saat ini walaupun yang budidaya tambah banyak tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan pasar,” ungkapnya.

Ia mengaku selain konsumen langsung, pembeli yang datang juga ada yang menjualnya lagi secara online.

“Kami jual di sini 10 ribu satu mika. Nanti mereka jual lagi secara online dengan 15 ribu,” jelasnya.

Lebih lanjut Arif mengemukakan limbah tongkol jagung yang digunakan sebagai media budidaya jamur hanya bisa dimanfaatkan sekitar 1,5 bulan. Selanjutnya limbah tak terpakai tersebut bisa lagi dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk organik.

Arif berharap semoga pemerintah memberikan atensi terhadap kegiatan positif anak-anak muda ini sehingga dapat dikembangkan menjadi lebih luas lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *