Mengungkap Candi Megah di Desa Keru Lombok, Peninggalan Anak Agung Ngurah Karangasem

 

MATARAM, SIARPOST | Bangunan Pura atau Candi peninggalan sejarah di Lombok adalah sebuah historis panjang yang menunjukan adanya peradaban manusia dan budaya.

Ribuan peninggalan sejarah yang ada di Lombok bisa ditemukan seperti Pura Mayure Cakranegara, Pura Lingsar dan beberapa Pura lainnya.

Namun ada satu Pura yang diketahui berusia atau berada di satu zaman dengan Pura Mayura, yakni Pura Sangkareang peninggalan Anak Agung Ngurah Karangasem. Pura tersebut ditemukan di Desa Keru Lombok Barat.

BACA JUGA : Temuan BPK, Pemda Lobar Pungut Pajak Pada Pengusaha Bukan Subjek Pajak dan Non PKP Senilai Rp5,3 Miliar

Sepintas tidak ada Pura saat kami mendatangi sebuah lokasi yang dikelilingi banyak sekali sumber mata air di Desa Keru Kecamatan Narmada, pada beberapa waktu yang lalu. Terlihat banyak pepohonan rimbun.

Namun, setelah diselidiki lebih dekat, ternyata ada beberapa bangunan candi atau Pura dalam kompleks Pura Sangkareang tersebut yang diselimuti oleh rimbunan pohon dan tanaman liar tersebut.

Gebyar Seni NTB 2024 : Sarasehan Industri Kreatif Berbasis Budaya dan Ruang Hidup Seni Tradisi

Salah satu penelusuran kami bersama salah satu warga setempat, tempat ini merupakan komplek pura tua yang konon dibangun sezaman dengan pura mayura di Cakranegara.

Jika benar demikian, maka dapat dipastikan bahwa pura ini merupakan salah satu situs sejarah atau cagar budaya peninggalan dari anak agung Ngurah Karangasem tersebut.

Pura Sangkareang ini berada di atas sebuah bukit yang terdiri atas lima terasan, pada teras pertama terdapat sebuah gerbang yang sangat megah menghadap ke timur, dan di depannya terdapat tiga titik mata air.

BACA JUGA : BPK Temukan Paket Pekerjaan Infrastruktur di PUPR dan Perkim Lobar Tidak Sesuai Spesifikasi dan Kurang Volume Rp1,3 M

Kemudian pada teras kedua terdapat sebuah Pelinggih berbentuk persegi, yang pada tangganya terdapat patung berukiran naga yang sangat indah.

Nah, pada teras ketiga tidak terdapat apa-apa, hanya saja ada bekas bangunan atau pondasi bangunan berbentuk bundar, kemungkinan besar adalah bekas sumber mata air.

Pada teras keempat terdapat 3 buah Pelinggih atau pura yang posisinya bersebelahan. Pada teras kelima terdapat empat pelinggih utama dengan ketinggian mencapai sekitar 10 atau 15 meter.

Pelinggih atau Padmasana ini memiliki ukiran yang sangat indah dan bercerita tentang proses pengadukan samudra Mantana atau proses pencarian Tirta Amerta.

Dimana kita bisa melihat ada relief atau ukiran pahat bentuk kura-kura yang sedang dililit oleh seekor naga, kemudian di atasnya ada raksasa atau barong. Kemudian di atasnya lagi terdapat relief para dewa.

Relief bangunan Pura ini sangat indah, namun sayang masih ditutupi oleh tumbuhan liar sehingga tidak bisa dilihat keseluruhan nya.

Penelusuran singkat kami ke komplek pura sangkar yang di Desa Keru Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat ini membuka mata kita akan sebuah peradaban di tanah Lombok.

BACA JUGA : Ilusi Wacana Pemimpin Muda di Kabupaten Bima, Skema Politik Melanggengkan Kekuasaan

Semoga dengan penemuan situs atau cagar budaya Kompleks Pura Sangkareang ini bisa diatensi oleh pemerintah maupun berbagai pihak.

Sehingga bisa direnovasi, diperbaiki, agar bisa dimanfaatkan kembali oleh Saudara-saudaranya umat Hindu Dharma yang ada di sekitar Pura Sangkareang.

Pura ini juga merupakan salah satu situs sejarah dan budaya yang dapat mengangkat posisi Desa Keru sebagai salah satu kawasan dengan peninggalan sejarah dan cagar budaya yang berpotensi untuk dijadikan sebagai destinasi wisata religi, budaya dan juga sejarah.

Apalagi Keru memiliki pasar tradisional terbesar dan tertua di Kabupaten Lombok Barat, kemudian juga Keru masih memiliki naskah persawahan yang indah dan asri, di mana terdapat sejumlah air terjun juga di dekatnya.

Tentunya semua ini dapat menjadikan Desa Keru sebagai salah satu destinasi wisata yang lengkap dan dapat bersaing, tidak hanya pada kancah daerah tetapi juga nasional dan internasional.

Semoga semua potensi ini dapat disadari oleh masyarakat sekitar, khususnya pemerintah Desa Keru agar desa mereka dapat bersaing dengan desa-desa lainnya yang ada di Provinsi NTB dan bahkan di Indonesia. (Feryal).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *