SUMBAWA BARAT (SIAR POST) — Gelombang kekecewaan warga Sumbawa Barat kembali mencuat ke ruang publik. Kali ini, sorotan tajam mengarah pada proyek peningkatan jalan bernilai Rp31 miliar yang dinilai asal jadi, kualitas rendah, dan terkesan dikejar tayang.
Pantauan dari berbagai komentar warga di media sosial menunjukkan satu suara yang nyaris seragam, jalan baru, tapi rasa jalan lama.
Mulai dari aspal yang tipis, permukaan bergelombang, hingga tambalan yang sudah muncul meski usia jalan belum genap setahun, menjadi keluhan utama warga yang setiap hari melintasi ruas tersebut.
“Aspalnya setipis harapan, sebentar lagi pudar. Satu dua tahun bisa rusak lagi,” tulis Deki Tandean, mewakili kekecewaan banyak warga.
Warga lain bahkan menyindir kualitas proyek dengan nada satir.
“Aspal setipis harapan rakyat NTB. Baru diaspal, sekarang sudah rusak,” komentar R Enji GemparPs.
Sejumlah komentar warga menilai proyek jalan tersebut dikerjakan dengan pola lama, yang penting cepat selesai, kualitas belakangan. Tambal sulam di ruas jalan baru justru memperkuat dugaan tersebut.
“Asal cepat jadi dan cepat selesai supaya terlihat kinerjanya,” ujar Ryo Ory, yang menyebut kualitas jalan “nol”.
Keluhan serupa disampaikan Ruslan Ab, yang mengaku kecewa setelah melakukan pemantauan langsung.
“Kami masyarakat kecewa. Hasil fisik tidak sesuai spesifikasi. Rabat, paving, talut, drainase—semuanya buruk,” tulisnya.
Tak sedikit pula warga yang menyebut proyek ini lebih menguntungkan kontraktor dibandingkan masyarakat.
“Banyak untung kontraktornya,” tulis Mas Adyt singkat namun pedas.
Selain kontraktor, warga juga menyoroti peran pengawas dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Mereka menilai kerusakan dini tidak mungkin terjadi tanpa lemahnya pengawasan.
“Yang paling bertanggung jawab itu pengawasnya,” tegas Aza Lea Halika Zahin.
Komentar lain menyebut, jika pengawasan berjalan ketat sejak awal, kualitas jalan tidak akan secepat itu menurun.
“Coba turun dari kendaraan, dekatkan mata ke hotmix. Waduh, tidak sebanding dengan anggarannya,” tulis Josi Pendobrak Negeri Sakura.
Selain soal kualitas, warga juga mengeluhkan risiko keselamatan, terutama pada malam hari. Jalan yang bergelombang, tambalan tidak rata, serta minimnya penerangan dinilai membahayakan pengguna jalan.
“Belum beberapa bulan sudah tambal sulam. Perjalanan malam sangat berbahaya,” ungkap Jamal Maltasika.
Kondisi ini memicu desakan agar proyek jalan bernilai puluhan miliar tersebut diaudit secara menyeluruh, baik dari sisi spesifikasi teknis, volume pekerjaan, hingga pengawasan lapangan.
“Usut tuntas. Ini ladang korupsi. Spek jalan tidak sesuai aslinya,” tulis Agoez Supriadie.
Warga berharap proyek infrastruktur tidak lagi sekadar menjadi formalitas serapan anggaran, tetapi benar-benar dibangun untuk daya tahan jangka panjang dan keselamatan publik.
“Kalau jalan bagus dan tahan lama, dana tidak akan turun lagi. Jadi paham sendiri,” sindir Eno Casper.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi terbaru dari pihak terkait menanggapi derasnya kritik warga. Publik Sumbawa Barat kini menanti, apakah suara rakyat akan didengar, atau kembali tertutup lapisan aspal tipis yang cepat mengelupas.
Redaksi | SIAR POST
