LOMBOK UTARA, SIAR POST | Sebuah video yang memperlihatkan seorang warga negara asing (WNA) atau bule diduga mengamuk sambil membawa senjata tajam viral di media sosial. Peristiwa tersebut disebut-sebut terjadi di salah satu kawasan Gili, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat saat warga setempat sedang Tadarusan, Kamis (19/2/2026).
Dalam rekaman yang telah ditonton lebih dari 117 ribu kali itu, tampak seorang pria bule mendekati seorang warga dengan membawa benda yang diduga senjata tajam.
Warga yang berada di lokasi terlihat panik dan berlari menjauh untuk menghindari pria tersebut. Suasana dalam video terdengar tegang, dengan teriakan dari beberapa orang di sekitar lokasi kejadian.
Unggahan tersebut langsung memicu beragam reaksi dari warganet. Sebagian meminta aparat kepolisian segera turun tangan untuk memastikan kebenaran peristiwa dan mengambil langkah hukum jika terbukti terjadi pelanggaran.
Ada pula yang mendesak agar WNA tersebut ditangkap dan dideportasi apabila terbukti mengancam keselamatan warga.
Di sisi lain, sejumlah komentar di media sosial menyinggung pentingnya wisatawan memahami adat, budaya, serta karakter masyarakat lokal saat berkunjung ke Lombok.
Tradisi keagamaan seperti azan dan tadarus disebut sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
Berdasarkan informasi yang beredar, kemarahan pria dalam video tersebut diduga dipicu oleh suara azan atau tadarusan yang dianggap terlalu keras.
Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai motif maupun kronologi pasti kejadian tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, aparat penegak hukum di Kabupaten Lombok Utara belum memberikan keterangan resmi terkait insiden viral tersebut.
Belum diketahui pula apakah ada korban dalam peristiwa itu maupun tindakan yang telah diambil pihak berwenang.
Kawasan Gili di Lombok Utara dikenal sebagai destinasi wisata internasional yang ramai dikunjungi wisatawan mancanegara.
Insiden ini pun menjadi perhatian publik karena menyangkut aspek keamanan dan kenyamanan di wilayah wisata unggulan tersebut.
Masyarakat kini menunggu klarifikasi resmi dari aparat guna memastikan fakta sebenarnya serta mencegah berkembangnya spekulasi di tengah publik.
*REDAKSI
