MATARAM, SIAR POST | Malam itu di pesisir Pantai Bintaro, Ampenan, deru ombak Selat Lombok berkejaran menyapu pasir. Di bawah beratapkan langit terbuka dan beralaskan seadanya, anak-anak nelayan serta para relawan Sekolah Pesisi Juang berkumpul.
Tidak ada gedung bioskop mewah atau kursi empuk. Hanya ada sebuah layar kain putih yang diikat pada tiang bambu, memantulkan cahaya proyektor yang berpendar di tengah kegelapan malam pantai.
Malam ini mereka berkumpul bukan sekadar untuk melepas penat, melainkan untuk menyaksikan sebuah realitas yang membentang jauh di ujung timur nusantara melalui film dokumenter “Pesta Babi” karya Dandhy Laksono.
Saat film mulai diputar, suasana seketika hening. Suara deburan ombak seolah meredam, memberi ruang bagi narasi pilu dari tanah Papua.
Anak-anak pesisir Ampenan, yang sehari-hari akrab dengan jaring ikan dan asinnya air laut, kini dihadapkan pada potret anak-anak suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu di Papua Selatan.
Mereka menyaksikan bagaimana hutan adat dibabat habis, bagaimana ruang hidup masyarakat asli digerus oleh proyek raksasa kelapa sawit dan tebu atas nama “ketahanan pangan” serta “transisi energi”.
Istilah “Pesta Babi” yang sejatinya merupakan metafora adat tentang hubungan sakral manusia Papua dengan alamnya—kini berubah menjadi potret ironis dari perebutan ruang hidup.
Tatapan mata anak-anak Sekolah Pesisi Juang terpaku pada layar. Ada rasa heran, sedih, sekaligus kekaguman pada keteguhan masyarakat adat Papua yang terus berjuang mempertahankan tanah leluhur mereka di bawah bayang-bayang militerisasi.
Bagi Sekolah Pesisi Juang, film ini bukan sekadar tontonan visual. Ini adalah media belajar alternatif untuk membuka mata dan melatih nalar kritis sejak dini.
Di saat pemutaran film ini mengalami berbagai pembatasan dan pembubaran di ruang-ruang akademik formal seperti kampus-kampus besar, ruang non-formal di tepi pantai ini justru menjelma menjadi benteng kebebasan berpikir yang jujur.
Ketika layar kembali gelap dan lampu dinyalakan, diskusi kecil pun dimulai di bawah hangatnya angin malam pantai.
Melalui dokumenter ini, anak-anak pesisir belajar satu hal penting: bahwa di mana pun kita berada baik di pesisir Lombok maupun di pedalaman Papua, tanah, laut, dan lingkungan adalah identitas serta masa depan yang harus dijaga bersama dengan penuh keberanian.
Dari sudut kecil Pantai Bintaro, Sekolah Pesisi Juang malam itu tidak hanya menonton sebuah film, tetapi sedang merawat ingatan dan solidaritas kemanusiaan yang menembus batas pulau. (Red)
