DOMPU, SIAR POST – Video yang memperlihatkan Bupati Dompu Bambang Firdaus marah dan menunjuk mahasiswa saat audiensi di ruang rapat bupati menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Rekaman tersebut memicu beragam komentar publik, bahkan sebagian warganet menilai sikap bupati terkesan arogan saat menghadapi penyampaian aspirasi mahasiswa.
Menanggapi polemik tersebut, Pemerintah Kabupaten Dompu akhirnya memberikan penjelasan mengenai kronologi yang terjadi sebelum video itu direkam dan beredar luas.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Setda Dompu, Ardiansyah, S.E., mengatakan dinamika di lapangan terjadi karena situasi di ruang rapat sudah memanas sebelum Bupati Bambang Firdaus tiba untuk menemui massa aksi.
“Kadang di lapangan terjadi dinamika. Sebelum Pak Bupati menemui massa, para pendemo terlebih dahulu mengobrak-abrik meja di ruang rapat bupati. Karena itu beliau sedikit kecewa dengan cara adik-adik menyampaikan pendapat,” ujar Ardiansyah, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, saat kejadian Bupati Dompu sedang menghadiri kegiatan di Kecamatan Kempo. Sementara itu, Sekretaris Daerah bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) telah bersiap menerima mahasiswa yang datang menyampaikan aspirasi.
Namun, kata Ardiansyah, massa aksi masuk ke dalam kantor dengan berlari dan langsung membalikkan meja di ruang rapat bupati.
“Mereka masuk ruangan rapat berlari dari luar dan langsung mengobrak-abrik ruangan rapat bupati. Ini yang kami sesalkan karena kurang saling menghargai,” katanya.
Pihak pemerintah daerah mengaku sejak awal tetap membuka ruang dialog. Bahkan, setelah massa diminta keluar dari ruang rapat karena situasi memanas, pemerintah tetap bersedia menerima aspirasi mahasiswa.
“Kami minta jangan anarkis. Pemerintah siap berdiskusi. Mereka masuk tanpa basa-basi langsung membalikkan meja. Setelah itu mereka berorasi di teras, dan kami bersama Pak Sekda tetap siap menerima aspirasinya,” jelasnya.
Ardiansyah menilai video yang kini beredar di media sosial hanya memperlihatkan sebagian dari rangkaian peristiwa sehingga memunculkan persepsi seolah-olah Bupati Dompu bersikap arogan saat menghadapi mahasiswa.
Di sisi lain, video tersebut memancing kritik dari sejumlah warganet. Salah satunya disampaikan akun Facebook bernama Ilham Mpo yang menilai respons Bupati Dompu mencerminkan sikap yang kurang mencerminkan ketenangan seorang pemimpin.
Dalam unggahannya, Ilham menulis bahwa seorang kepala daerah semestinya menunjukkan keterbukaan terhadap kritik dan menghormati kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi.
Ia juga mempertanyakan gaya kepemimpinan di Kabupaten Dompu serta menilai demokrasi akan kehilangan makna apabila kritik dibalas dengan sikap yang dianggap arogan.
“Kami menilai yang dibutuhkan saat ini bukan kemarahan, melainkan dialog yang sehat, transparansi, dan kesediaan mendengar suara rakyat. Mahasiswa berhak menyampaikan aspirasi, sementara pemimpin berkewajiban menjawabnya dengan sikap yang bijaksana,” tulisnya.
