Bulog NTB Tak Temui Massa Aksi, Perhimpunan Pemuda Sasak Desak Pimpinan Wilayah Dicopot usai Kasus Beras Oplosan

Sementara itu, Koordinator Lapangan II, Renggo Wawan, menjelaskan bahwa replika pocong yang dibakar bukan sekadar properti aksi, melainkan simbol matinya integritas dan pengawasan dalam tata kelola distribusi pangan.

Menurutnya, yang dibakar adalah simbol kelalaian, pembiaran, serta ketidakberanian mengambil tanggung jawab terhadap persoalan yang merugikan masyarakat.

Dalam aksi tersebut, Perhimpunan Pemuda Sasak menyampaikan enam tuntutan kepada pemerintah dan manajemen Perum BULOG, yakni mendesak pencopotan Pimpinan Wilayah BULOG NTB, membuka hasil audit investigatif kasus beras oplosan kepada publik, mempublikasikan hasil evaluasi sistem pengawasan distribusi beras, memutus kerja sama dengan mitra yang terbukti melakukan pelanggaran, membentuk pengawasan bersama yang melibatkan masyarakat sipil, akademisi, media, organisasi kepemudaan, serta aparat penegak hukum, dan mengusut seluruh pihak yang diduga terlibat tanpa berhenti pada pelaku lapangan.

Menutup aksi, massa kembali membakar replika pocong sebagai simbol komitmen mereka mengawal pemberantasan mafia pangan. Perhimpunan Pemuda Sasak menegaskan akan terus mengawal kasus tersebut hingga ada langkah nyata dari pemerintah dan manajemen Perum BULOG untuk memperbaiki tata kelola distribusi pangan serta memulihkan kepercayaan masyarakat di Nusa Tenggara Barat. (Red).

Exit mobile version