/Perjalanan Panser FC Hingga Tembus 8 Besar dan Event di Bali Yang Akan Kandas
SUMBAWA BARAT, SIAR POST — Kekalahan dari Bomber FC di babak delapan besar Piala Soeratin NTB 2026 menjadi pukulan bagi Panser FC. Namun, skor akhir pertandingan 0-3 itu tidak cukup untuk menghapus cerita panjang perjuangan tim asal Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, tersebut.
Panser FC datang ke Piala Soeratin 2026 bukan dengan persiapan ideal. Tidak ada target besar yang dipasang. Waktu latihan sangat singkat, persiapan fisik dan materi pemain dilakukan secara mendadak, sementara persoalan anggaran menjadi tantangan tersendiri.
Namun, dengan segala keterbatasan itu, Panser justru mampu melangkah hingga babak delapan besar.
Pelatih Panser FC, Saipul Bahri, bersama asistennya, Ade, terus memompa semangat para pemain agar tidak mudah patah semangat dalam kondisi apa pun.
Menurut Saipul, pencapaian hingga delapan besar merupakan hasil luar biasa dari kerja keras para pemain.
“Awalnya kami tidak punya target sampai delapan besar karena persiapan, baik fisik maupun materi, semuanya mendadak. Kami hanya ingin memberikan ruang bagi anak-anak KSB untuk tampil di Piala Soeratin,” ujarnya usai pertandingan di GOR Turida Kota Mataram, Rabu (9/9/2026).
Panser tampil dengan apa adanya. Tidak mengandalkan persiapan panjang maupun dukungan anggaran besar. Justru semangat dan kemauan para pemain yang menjadi modal utama.
“Alhamdulillah, tanpa ada target, dengan semangat dan usaha anak-anak, kami bisa mencapai delapan besar Soeratin 2026,” katanya.
Menang di Laga Awal, Tahan Imbang Fatahilah
Perjalanan Panser di Piala Soeratin juga tidak mudah. Pada pertandingan pertama, Panser FC mampu menundukkan Redwood dengan skor 2-0.
Pada laga berikutnya, Panser berhadapan dengan Fatahilah, klub asal Kabupaten Dompu. Pertandingan berlangsung ketat dan berakhir dengan skor 1-1.
Langkah Panser kemudian terhenti di babak delapan besar setelah berhadapan dengan Bomber FC, salah satu tim yang sejak awal dianggap sebagai klub unggulan di Piala Soeratin.
Meski kalah, permainan anak-anak Panser mendapat apresiasi. Mereka dinilai mampu memberikan perlawanan dan mengimbangi permainan tim yang memiliki materi pemain cukup baik.
“Itulah sepak bola kita. Kita tidak bisa memprediksi hasil pertandingan. Secara garis besar permainan anak-anak luar biasa dan mampu mengimbangi pemain Bomber yang merupakan salah satu tim unggulan,” ujar Saipul.
Tanpa Donatur, Orang Tua Jadi Kekuatan Panser
Di balik perjuangan Panser menuju delapan besar, ada cerita yang jauh lebih menyentuh.
Tim ini menjalani kompetisi tanpa dukungan dana dari donatur. Biaya perjalanan, transportasi, akomodasi hingga kebutuhan makan pemain selama berada di Mataram ditanggung melalui talangan dan patungan orang tua pemain.
Para pemain dan orang tua bahu-membahu agar anak-anak mereka tetap bisa mengikuti kompetisi. Kondisi tersebut menjadi salah satu kesulitan terbesar Panser dalam mengikuti Soeratin tahun ini.
Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat para pemain untuk mengenakan jersey Panser dan membawa nama Sumbawa Barat di kompetisi tingkat NTB.
Saipul pun memberikan apresiasi kepada seluruh pemain yang telah memberikan dedikasi dan tenaga mereka untuk tim.
Menurutnya, pengalaman tampil di Piala Soeratin menjadi bekal penting bagi para pemain muda untuk berkembang dan menghadapi event-event sepak bola yang lebih besar di masa mendatang.
Delapan Pemain Masih Bisa Tampil Tahun Depan
Ada kabar baik dari skuad Panser tahun ini. Delapan pemain kelahiran 2010 masih memiliki kesempatan untuk tampil kembali pada Piala Soeratin tahun depan.
Hal ini menjadi modal penting bagi Panser untuk membangun tim yang lebih matang.
“Masih ada delapan pemain kelahiran 2010 yang masih bisa ikut tahun depan,” jelas Saipul.
Panser pun tidak ingin berhenti sampai di Soeratin.
Tim kebanggaan Taliwang tersebut dijadwalkan bersiap mengikuti Liga 4 Indonesia sekitar November 2026. Untuk venue pertandingan, hingga kini masih menunggu kepastian.
Skuad Liga 4 nantinya akan memadukan pemain senior dengan pemain muda. Rencananya terdapat lima pemain senior, sementara sisanya merupakan pemain kelahiran 2007 hingga 2009.
Nama Panser Tetap Bergema di Tribun
Ada satu hal yang membuat kekalahan Panser terasa berbeda.
Meski skor 0-3 terpampang di papan pertandingan, nama Panser tidak pernah benar-benar kalah.
Di tribun penonton, nama Panser terus terdengar. Dukungan dan teriakan supporter tetap mengiringi perjuangan para pemain hingga pertandingan berakhir.
Mereka datang bukan hanya untuk melihat Panser menang.
Mereka datang karena mencintai klub yang sudah menjadi bagian dari perjalanan sepak bola Taliwang.
Nama besar itu telah terdengar sejak Panser tumbuh menjadi salah satu klub yang diperhitungkan di Sumbawa Barat. Hingga kini, di Piala Soeratin 2026, kecintaan supporter terhadap klub berlambang tank tersebut masih tetap hidup.
Panser FC sendiri didirikan sejak 1999. Selama puluhan tahun, nama Panser telah melekat kuat dalam perjalanan sepak bola Sumbawa Barat dan menjadi salah satu klub yang memiliki sejarah panjang di daerah tersebut.
Sorak-sorai dari tribun menjadi bukti bahwa bagi supporter, Panser bukan hanya tentang kemenangan dan kekalahan.
Panser adalah identitas.
Mimpi ke Bali Terhalang Dana
Panser sebenarnya juga memiliki rencana mengikuti event sepak bola bertaraf internasional di Bali.
Namun, mimpi tersebut masih menghadapi persoalan yang sama: pendanaan.
Keterbatasan anggaran membuat rencana membawa pemain muda Panser tampil di event tersebut terancam kandas. Padahal, Panser bukan klub yang lahir kemarin sore.
Nama Panser telah puluhan tahun melekat dalam perjalanan sepak bola Sumbawa Barat. Klub ini dikenal sebagai salah satu klub yang pernah melahirkan pemain-pemain terbaik daerah.
Berbagai gelar pernah diraih, baik dalam kompetisi se-Pulau Sumbawa maupun turnamen di luar Sumbawa.
Sejumlah pemain Panser juga pernah mengisi skuad PS Sumbawa Barat dalam beberapa tahun sebelumnya.
