10 Jam Menembus Hutan Rinjani, Kisah 34 Pendaki Hora Hore dari Timbanuh hingga Puncak Tembesi

LOMBOK TIMUR, SIAR POST — Gunung Rinjani selalu punya cara sendiri untuk mengajarkan manusia tentang arti perjalanan. Bukan hanya soal seberapa tinggi kaki melangkah, tetapi tentang bagaimana seseorang tetap berjalan ketika lelah datang.

Bagaimana tangan terulur ketika ada yang cedera, dan bagaimana rombongan memilih untuk tidak meninggalkan siapa pun di belakang.

Itulah yang dirasakan 34 anggota tim Pendaki Hora Hore saat melakukan perjalanan pendakian melalui jalur selatan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Desa Timbanuh, Lombok Timur, Sabtu (3/10/2026) hingga Minggu (4/10/2026).

Mereka datang dari berbagai daerah di NTB. Usianya pun beragam. Ada yang masih duduk di bangku SMA, mahasiswa, ibu-ibu, hingga pendaki berusia sekitar 54 tahun. Bahkan, koordinator perjalanan mereka, Om Dwi atau yang akrab disapa Om Bogel, usianya sudah sekitar 60 tahun.

Namun usia ternyata bukan alasan untuk berhenti. Yang membuat perjalanan ini terasa berbeda justru semangat kebersamaan.

Karena di gunung, tujuan memang penting. Tetapi pulang bersama jauh lebih penting.

Berangkat dari Timbanuh

Pagi itu, rombongan tiba di Kantor TNGR Timbanuh. Sebelum memulai perjalanan, seluruh pendaki terlebih dahulu melakukan proses check-in. Barang bawaan diperiksa dan sejumlah dokumen seperti KTP serta surat keterangan sehat dipastikan sudah dibawa.

Untuk membuat perjalanan lebih ringan, tim menggunakan sekitar 12 porter.

Alhasil, para pendaki cukup membawa tas kecil berisi jaket, air minum dan makanan ringan. Snack pun sebaiknya dikemas menjadi satu dalam wadah plastik agar tidak meninggalkan banyak bungkus selama perjalanan.

Tepat sekitar pukul 09.00 WITA, perjalanan dimulai.

Langit pagi cukup cerah. Semangat 34 pendaki masih penuh. Tawa dan obrolan terdengar sepanjang langkah pertama memasuki kawasan hutan.

Jalur awal dari Timbanuh terasa cukup bersahabat. Hutan masih rapat, udara sejuk dan suasananya begitu alami.

Sekitar satu jam berjalan, rombongan tiba di Pos 1. Masih terasa ringan.

Bahkan beberapa pendaki mungkin masih berpikir, “Ah, ternyata tidak terlalu berat.”
Padahal, Rinjani baru saja membuka pintunya.

Tidak jauh dari Pos 1 terdapat shelter yang bisa digunakan untuk beristirahat. Bahkan pendaki masih bisa mengisi daya telepon seluler.

Setelah beristirahat, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 2.

Di jalur ini suasana hutan semakin terasa. Pohon-pohon besar mengiringi perjalanan. Sesekali rombongan berhenti untuk mengambil foto.

Maklum, namanya juga Hora Hore. Berjalan, bercanda, foto-foto, kemudian berjalan lagi.

Porter yang membawa perlengkapan rombongan memang sempat berangkat lebih lambat karena harus membereskan dan melakukan packing barang. Namun mereka akhirnya menyusul dan beberapa kali dilewati pendaki.

Bukan karena porter lebih lambat. Mereka justru memiliki tugas lain yang tak kalah penting yakni memastikan tenda berdiri dan makanan siap ketika rombongan tiba di camp.

Dari shelter menuju Pos 2, perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam dengan ritme santai.

Sesampainya di Pos 2, rasa lelah mulai terasa. Namun pendaki tak perlu terlalu khawatir soal air.

Di lokasi ini terdapat mata air alami yang jernih dan dapat dimanfaatkan pendaki.

Rombongan kemudian beristirahat dan makan siang. Sebagian bahkan sempat merebahkan badan untuk mengembalikan tenaga.

Tetapi istirahat terlalu lama juga bukan pilihan. Sebab perjalanan menuju Pos 3 masih menunggu.

Mulai terasa tantangan Rinjani

Selepas Pos 2, karakter jalur mulai berubah. Tanjakan semakin terasa. Kaki mulai bekerja lebih keras dan tenaga perlahan terkuras.

Namun sesekali terdapat bagian jalur yang lebih landai, menjadi semacam “bonus” bagi pendaki untuk mengambil napas.

Pepohonan pun mulai berubah. Beberapa bagian jalur terlihat lebih terbuka dengan daun-daun yang telah berguguran.

Di sinilah Rinjani mulai menunjukkan karakter lainnya.

Perjalanan memang melelahkan, tetapi pemandangan dan suasananya membuat setiap langkah terasa memiliki cerita.

Di sepanjang perjalanan, Om Bogel dan Bang Dian terus mendampingi rombongan. Om Bogel bahkan memilih berada di barisan paling belakang.

Bukan karena tertinggal. Justru sebaliknya, ia ingin memastikan tidak ada satu pun anggota tim yang tertinggal sendirian.

“Yang penting semua sampai,” seolah itulah prinsip perjalanan mereka.

Ketika ada yang berhenti, yang lain ikut berhenti. Ketika ada yang kram, dibantu.

Ketika ada yang kehabisan tenaga, diberi semangat. Air minum pun berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.

Di gunung, jarak antara orang yang baru dikenal dan sahabat lama seakan menghilang. Semua menjadi satu rombongan.

Sampai di Pos 3 saat sore mulai turun

Rombongan kemudian melewati kawasan Kali Mati. Pos 3 semakin dekat.

Dari Pos 2 menuju area camp Pos 3, perjalanan membutuhkan sekitar 2,5 jam dengan ritme paling santai.

Sekitar pukul 16.20 WITA, akhirnya 34 pendaki tiba di area camp. Rasa lega langsung terasa.

Di depan mata, Gunung Rinjani terlihat begitu dekat dan indah. Namun sore menjelang malam di kawasan camp bukan perkara ringan.

Udara semakin dingin. Jaket tebal dan sleeping bag menjadi perlengkapan penting untuk bertahan menghadapi malam.

Di Pos 3 juga tersedia mata air. Sementara porter telah menyiapkan kebutuhan air dan perlengkapan camp.

Pendaki kemudian berganti pakaian, masuk tenda dan mencoba menghangatkan tubuh.

Sebagian memilih minum kopi sambil terus bergerak agar tidak terlalu kedinginan.

Malam pun tiba. Para porter menyajikan makanan sederhana khas pendakian, nasi, mi, telur dan sayur. Ada pula kopi, susu dan sejumlah makanan lainnya.

Sederhana, tetapi terasa sangat nikmat setelah menempuh perjalanan berjam-jam.

Malam itu seharusnya menjadi waktu untuk tidur dan mengumpulkan tenaga. Namun dinginnya Rinjani membuat tidur tidak selalu mudah.

Apalagi jika perlengkapan yang dibawa hanya selimut dan kaus kaki tipis.

Rencana awal team akan summit attack dilakukan sekitar pukul 03.00 WITA.

Namun persiapan sedikit terlambat. Sekitar pukul 04.00 WITA, rombongan mulai bergerak menuju Puncak Tembesi.

Kali ini suasananya berbeda. Langit masih gelap, langkah kaki menjadi lebih pelan. Napas mulai berat.

Tetapi perlahan, cahaya mulai muncul di ufuk timur. Rombongan melewati kawasan savana.

Exit mobile version