Rudi, seorang tukang parkir di sekitar lokasi, mengaku dampak bau sampah sangat mengganggu. “Saya saja pernah muntah-muntah. Di sekitar sini ada sekolah dan warung makan. Banyak warga sudah lama protes,” ujarnya kala itu.
Ia menyebut lokasi pembuangan sempat direncanakan dipindahkan ke kawasan Loang Baloq, namun rencana tersebut tak kunjung terealisasi karena keterbatasan anggaran.
Meski DLH menilai persoalan juga dipicu oleh rendahnya kesadaran sebagian warga dalam mengelola sampah, masyarakat Gomong menegaskan bahwa alasan tersebut tidak bisa dijadikan pembenaran.
Mereka menuntut solusi nyata dan cepat, bukan sekadar wacana yang berulang.
Redaksi | Feryal.
