Lombok Utara,SIARPOST— Kemenangan PS Daygun pada laga lanjutan zona Pulau Lombok menjadi suntikan semangat besar bagi tim asal Kabupaten Lombok Utara itu. Namun di balik euforia hasil positif di lapangan, Ketua Askab PSSI Lombok Utara, Raden Nuna Abriadi, justru menyampaikan keprihatinan mendalam terkait minimnya dukungan dan sulitnya akses fasilitas latihan bagi tim daerah.
Raden Nuna menegaskan bahwa kemenangan ini belum berarti PS Daygun lolos ke empat besar. Laga berikutnya melawan Perslotim akan menjadi penentu posisi juara grup. Jika mampu menang, PS Daygun akan keluar sebagai juara grup zona Pulau Lombok dan melaju ke fase berikutnya menghadapi runner-up grup lain sebelum bertemu wakil Pulau Sumbawa.
“Kemenangan ini menjadi pemicu semangat kami untuk debut berikutnya. Tapi ini belum aman. Laga lawan Perslotim akan menentukan posisi juara grup,” ujar Raden Nuna.
Di sisi lain, ia mengaku sangat tersinggung dengan kondisi yang dialami para pemain PS Daygun, khususnya terkait penggunaan lapangan. Menurutnya, tim yang mewakili daerah justru harus berulang kali meminta izin untuk berlatih di lapangan milik pemerintah daerah sendiri.
“Terus terang saya prihatin. Anak-anak ini mewakili Kabupaten Lombok Utara, tapi untuk latihan saja harus minta izin ke sana kemari. Ini lapangan milik daerah, seharusnya tim daerah yang diprioritaskan, tanpa alasan apa pun,” tegasnya.
Raden Nuna juga menepis anggapan bahwa perhatian terhadap PS Daygun akan mengesampingkan klub-klub lain. Ia menegaskan bahwa turnamen terbuka yang digelar justru menjadi ajang pemantauan bakat pemain lokal untuk memperkuat tim daerah ke depan.
Saat ditanya soal perhatian pemerintah daerah, Raden Nuna memilih bersikap lugas. Ia menyebut pihaknya tidak ingin meratap atau mengemis dukungan, meski secara jujur mengaku iri dengan daerah lain, khususnya di Pulau Sumbawa, yang begitu bangga dan serius mendukung sepak bola daerahnya.
“Saya iri dengan klub-klub di Bima. Mereka bangga, sepak bola benar-benar dianggap kepentingan masyarakat secara menyeluruh,” ujarnya.
Ia juga mengungkap keluhan langsung dari para pemain yang merasa heran mengapa berlatih di lapangan daerah sendiri terasa begitu sulit. Menurutnya, hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena menyangkut masa depan sepak bola Lombok Utara.
Ke depan, Raden Nuna optimistis masa depan sepak bola KLU akan cerah. PS Daygun disebutnya diperkuat putra-putra terbaik daerah, termasuk eks pemain Suratin yang pernah berlaga di Pulau Jawa, dipadukan dengan pemain senior.
Namun ia menekankan satu harapan besar: keterlibatan serius seluruh unsur, terutama pemerintah daerah.
“Sepak bola ini alat pemersatu. Saya harap Pemda KLU mulai merencanakan lapangan daerah, kita butuh stadion. Jangan sampai manajemen tim daerah ini seperti pengemis hanya untuk pinjam lapangan,” pungkasnya.
