Sumbawa Barat, SIAR POST — Ancaman keselamatan di ruas Jalan Benete, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), kembali memakan korban. Kecelakaan lalu lintas diduga terjadi akibat material batu bara yang tercecer di badan jalan, memicu reaksi keras dari Aliansi For Justice Save KSB yang menilai persoalan ini sudah masuk kategori pembiaran sistemik.
Peristiwa kecelakaan terjadi pada Kamis (29/1/2026), menimpa seorang warga asal Kecamatan Maluk. Korban diduga terpeleset akibat material batu yang jatuh dari dump truck pengangkut batu bara yang melintas dari arah Benete menuju Taliwang.
Meski korban hanya mengalami luka ringan dan telah mendapat ganti rugi dari pihak perusahaan, warga menegaskan bahwa kejadian ini bukanlah insiden tunggal, melainkan bagian dari masalah lama yang terus berulang tanpa penyelesaian serius.
Ketua Aliansi For Justice Save KSB, Abbas Kurniawan, saat diwawancarai, Sabtu (31/1/2026) menilai kecelakaan tersebut sebagai bukti nyata lemahnya pengawasan terhadap aktivitas pengangkutan batu bara di KSB.
Menurutnya, keselamatan warga terus dikorbankan demi kelancaran distribusi material industri.
“Ini bukan soal kecelakaan biasa, tapi kelalaian yang berulang. Batu bara tercecer di jalan, warga celaka, lalu selesai dengan ganti rugi. Pola ini tidak boleh terus dibiarkan,” tegas Abbas.
Aliansi menilai perusahaan bongkar muat yang saat ini beroperasi tidak becus dalam menjalankan standar keselamatan, baik di jalur darat maupun di kawasan dermaga.
Sebagai bentuk protes, Aliansi For Justice Save KSB memastikan akan menggelar aksi pada Rabu mendatang di dua titik strategis, yakni Dinas Perhubungan KSB dan PLTU Kertasari.
Dalam aksinya, aliansi akan mendesak Pergantian perusahaan bongkar muat batu bara yang dinilai lalai dan membahayakan publik.
Penerapan sistem tracking pengangkutan material agar muatan dapat terpantau dan tidak melanggar SOP, dan Pengaktifan kembali sistem pengamanan lalu lintas (stop and go) di titik-titik rawan kecelakaan.
“Kalau perusahaan tidak mampu menjamin keselamatan warga, maka harus diganti. Jangan tunggu korban jiwa baru bertindak,” kata Abbas.
Tak hanya soal keselamatan jalan, Aliansi For Justice Save KSB juga menyoroti potensi pencemaran lingkungan akibat tumpahan batu bara di kawasan dermaga.
Abbas mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KSB untuk segera melakukan uji sampel air laut di sekitar area dermaga, menyusul laporan warga terkait banyaknya batu bara yang tumpah ke laut.
“Ini bukan asumsi. Batu bara itu jelas jatuh ke laut saat proses bongkar muat. DLH wajib turun, ambil sampel, dan buka hasilnya ke publik,” ujarnya.
Menurutnya, pembiaran pencemaran laut tidak hanya merugikan ekosistem, tetapi juga mengancam nelayan dan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari laut.
Warga Keluhkan Hilangnya Pengawasan Lalu Lintas
Warga menyebut sistem pengamanan lalu lintas di jalur angkutan berat kini semakin longgar. Sejumlah titik rawan yang sebelumnya dijaga dengan sistem stop and go sudah tidak lagi difungsikan.
“Dari Jereweh sampai Labuhan Lalar sekarang sudah tidak ada stop and go. Di Benete dan Taliwang juga dikurangi. Padahal itu jalur padat,” keluh warga.
Beberapa titik rawan kecelakaan yang kerap disebut masyarakat antara lain Tanjakan Benete, Labuhan Lalar, hingga jalur menuju dermaga bongkar muat.
Kondisi ini diperparah dengan kendaraan yang dinilai tidak memenuhi standar keselamatan, serta muatan yang tidak tertutup dan mudah tumpah ke jalan.
