Lombok Tengah, SIAR POST – Ratusan masyarakat dari Dusun Awang mendatangi Kantor Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Rabu (4/2/2026).
Kedatangan warga tersebut untuk menyampaikan tuntutan agar Kepala Desa (Kades) Mertak, M. Sahnan, meminta maaf dan diberikan sanksi terkait polemik yang berkembang pasca pemilihan Kepala Dusun (Kadus) Awang Kebon.
Situasi sempat memanas, namun aparat keamanan bersama pemerintah kecamatan bergerak cepat melakukan pengamanan dan mediasi agar persoalan tidak meluas.
Permasalahan ini berawal dari ketidakpuasan seorang oknum yang tidak terpilih sebagai Kadus Dusun Awang Kebon.
Oknum tersebut merasa nilai yang diperolehnya dari hasil panitia seleksi (pansel) lebih tinggi dibanding calon yang akhirnya ditetapkan.
Ketidakpuasan tersebut kemudian berkembang di grup WhatsApp Pemdes Desa Persiapan Awang. Dalam percakapan tersebut muncul berbagai tanggapan pro dan kontra, bahkan disertai kata-kata yang dinilai kurang elok dan memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Menanggapi dinamika itu, Kades M. Sahnan mengaku sempat menyampaikan pernyataan dalam bahasa Sasak dengan tujuan meredam perdebatan agar tidak berlarut-larut.
Namun, situasi justru berkembang menjadi polemik yang lebih luas.
Kades Tegaskan Tidak Bersalah
Di hadapan warga dan unsur Forkopimcam, Kades M. Sahnan dengan tegas menyatakan dirinya tidak pernah mengucapkan kata-kata yang menyudutkan masyarakat Dusun Awang.
“Saya tidak pernah berniat menyudutkan siapa pun. Pernyataan saya di grup WhatsApp itu murni pertanyaan, bukan ditujukan kepada seseorang secara spesifik,” tegasnya.
Meski demikian, sebagai pimpinan desa, ia mengaku tetap berupaya menunjukkan itikad baik dengan menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh warga Dusun Awang Kebon sebagai bentuk tanggung jawab moral kepemimpinan.
“Saya hanya ingin suasana kembali tenang. Mari kita menelaah diri dan berdamai,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat tidak mudah terpancing isu yang belum tentu benar, serta menghindari spekulasi yang dapat memperkeruh suasana, apalagi menjelang tradisi Bau Nyale, agenda budaya penting masyarakat Pujut yang sarat nilai sejarah dan legenda Putri Mandalika.
Camat Pujut bersama Kapolsek Kuta turun langsung memediasi pertemuan antara Kades Mertak dan tokoh masyarakat Dusun Awang Kebon.
Namun, proses musyawarah sempat diwarnai keributan yang dipicu oleh oknum warga dari Dusun Awang Asam.
Kapolsek Mandalika memastikan hearing berjalan kondusif dengan pengamanan ketat dari 30 personel kepolisian, dibantu Badan Keamanan Desa dan Babinsa.
“Kami berharap masyarakat tidak mudah terpancing isu yang berkembang di media sosial. Aparat akan terus mengawal hingga situasi benar-benar aman dan damai,” tegas Kapolsek.
Polemik pemilihan Kadus Awang Kebon ini menjadi perhatian serius pemerintah desa dan aparat keamanan. Semua pihak diharapkan menahan diri dan mengedepankan musyawarah demi menjaga stabilitas sosial di Desa Mertak.
Menjelang perhelatan Bau Nyale yang menjadi kebanggaan masyarakat Lombok Tengah, kondusivitas wilayah menjadi prioritas utama agar tradisi budaya tetap berjalan khidmat tanpa dibayangi konflik internal.
Pemerintah desa pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali mempererat persatuan dan tidak membiarkan perbedaan pendapat merusak harmoni yang telah lama terjaga.
