MATARAM, SIAR POST | Siang itu, Senin (6/4/2026) di sebuah tempat fotokopi sederhana di Kota Mataram, suasana terlihat biasa saja. Orang-orang datang dan pergi, sibuk dengan urusan masing-masing. Namun di sudut ruangan, ada satu sosok yang diam-diam mencuri perhatian.
Seorang gadis muda, wajahnya manis dan polos, duduk dengan rapi sambil merapikan berkas-berkas di tangannya. Ia tampak tenang, tapi sorot matanya tak bisa berbohong, ada cemas, ada harap, ada perjuangan yang sedang ia pikul sendirian.
Saya mendekatinya, mencoba menyapa. Dari percakapan singkat itu, saya tahu bahwa ia bukan sekadar mencetak dokumen. Ia sedang menyiapkan masa depannya.
“Saya lagi cari kerja, Mas. Sebentar lagi wisuda… tapi tidak apa-apa, mumpung ada lowongan,” ucapnya lirih, namun penuh keyakinan.
Kalimat itu sederhana. Tapi terasa begitu berat. Ia adalah mahasiswi semester akhir di salah satu Universitas di MATARAM berasal dari Lombok Timur. Jarak yang harus ditempuh menuju Mataram tidak dekat.
Namun bukan jarak itu yang paling jauh, melainkan perjalanan hidup yang sedang ia tempuh, dari bangku kuliah menuju dunia nyata yang penuh ketidakpastian.
Ia bercerita akan melamar pekerjaan di sebuah perusahaan di Lombok Barat. Bukan pekerjaan bergengsi. Bukan pula yang sesuai dengan gelar sarjana yang akan ia sandang.
Tapi baginya, itu bukan soal gengsi. Itu soal bertahan. Soal memulai. Dan di titik itu, hati ini terasa seperti diremas pelan.
Di usia yang bagi sebagian orang masih dipenuhi tawa dan kebebasan, ia justru sudah berdiri di garis depan kehidupan. Memikirkan masa depan, memikirkan pekerjaan, memikirkan bagaimana bisa hidup mandiri.
Betapa banyak anak muda di luar sana yang mungkin masih menunda. Tapi gadis ini memilih berlari lebih dulu, meski jalannya belum tentu mudah.
Wajahnya sederhana. Tutur katanya lembut. Tapi tekadnya jauh lebih kuat dari yang terlihat.
Saya hanya bisa memberinya pesan sederhana: “Terus berusaha, jangan menyerah. Ikhtiar harus selalu ditemani doa. Jangan lupa minta restu orang tua.”
Namun dalam hati, saya berkata lebih dari itu, bahwa ia adalah potret nyata dari harapan yang tidak pernah menyerah pada keadaan.
Ini bukan sekadar kisah satu orang gadis. Ini adalah cerminan ribuan, bahkan jutaan anak muda di negeri ini yang sedang berjuang dalam diam.
Yang menahan lelah, menepis takut, dan terus melangkah meski jalan belum terlihat jelas.
Dan di akhir pertemuan itu, saya hanya bisa berdoa: Ya Allah, untuk mereka yang sedang mencari pekerjaan, yang berjuang siang dan malam, yang mungkin lelah tapi tidak menyerah… berikanlah mereka jalan.
Mudahkan langkah mereka. Lapangkan rezeki mereka. Kuatkan hati mereka.
Karena di balik setiap map berisi lamaran kerja, ada mimpi yang sedang diperjuangkan.
Dan di balik setiap doa yang dipanjatkan, ada masa depan yang sedang menunggu untuk dijemput. (Red).
