Hardiknas 2026: Sekolah Pesisi Juang Jadi Simbol Perlawanan Ketimpangan Pendidikan di Pesisir Mataram




Mataram, SIAR POST – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum refleksi atas masih lebarnya jurang ketimpangan pendidikan, terutama di wilayah pesisir.

Di tengah megahnya sekolah-sekolah modern di pusat Kota Mataram, realitas berbeda justru terlihat di kawasan pesisir Ampenan.


Hanya beberapa kilometer dari pusat kota, tepatnya di kawasan Pantai Bintaro, berdiri Sekolah Pesisi Juang, sebuah ruang belajar sederhana yang lahir dari kepedulian terhadap anak-anak pesisir.

Sekolah ini bukan gedung megah dengan fasilitas digital canggih, melainkan simbol nyata perlawanan terhadap ketidakmerataan akses pendidikan.


Di saat sebagian pelajar di perkotaan telah menikmati pembelajaran berbasis teknologi, anak-anak nelayan di pesisir sempat menghadapi keterbatasan serius, terutama saat pandemi melanda.

Minimnya akses gawai dan internet membuat mereka terancam tertinggal. Dari kondisi darurat itulah Sekolah Pesisi Juang hadir sebagai solusi alternatif.


Diprakarsai oleh Jauhari Tantowi bersama tim relawan, sekolah ini memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak pesisir.

“Tidak hanya mengajarkan baca, tulis, dan berhitung, para relawan juga menanamkan nilai kepercayaan diri dan harapan, bahwa anak pesisir memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan meraih masa depan,” ujar Jauhari di moment Hardiknas, Sabtu (2/5/2026).


Semangat Tut Wuri Handayani terasa hidup di setiap aktivitas belajar. Kehadiran para relawan menjadi bukti bahwa pendidikan sejati bukan semata soal fasilitas, tetapi tentang kepedulian dan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan.


Perjuangan Sekolah Pesisi Juang pun mendapat pengakuan dengan masuk sebagai finalis dalam SATU Indonesia Awards.

“Capaian ini menjadi validasi bahwa gerakan akar rumput mampu memberi dampak nyata dalam mengatasi ketimpangan pendidikan,” tegas Jauhari.

Hardiknas 2026 seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen menghadirkan pendidikan yang adil dan merata.

Kisah Sekolah Pesisi Juang menjadi pengingat bahwa masih ada “pahlawan sunyi” yang berjuang menjaga nyala pendidikan di wilayah yang kerap luput dari perhatian.


Dengan dukungan berbagai pihak, diharapkan pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa, melainkan benar-benar menjadi hak dasar setiap anak bangsa—termasuk mereka yang tumbuh di garis pantai. (Red)

Exit mobile version