Lombok utara SIARPOST— Persaingan tenaga kerja di kawasan wisata Lombok Utara dinilai semakin ketat. Namun di tengah geliat industri pariwisata di tiga gili, tenaga kerja lokal justru masih kalah bersaing akibat keterbatasan kemampuan bahasa asing dan keterampilan kerja.
Hal itu disampaikan anggota DPRD Kabupaten Lombok Utara dari Fraksi Gerindra, Artadi, saat menyoroti pentingnya peran Balai Latihan Kerja (BLK) dalam mencetak tenaga kerja siap pakai untuk sektor pariwisata maupun kebutuhan kerja luar negeri.
Menurutnya, Lombok Utara sebagai daerah wisata internasional membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berkomunikasi, terutama dalam bahasa Inggris. Selama ini, kata dia, banyak posisi kerja di sektor pariwisata justru diisi tenaga kerja dari luar daerah karena masyarakat lokal belum mampu memenuhi kebutuhan skill yang dibutuhkan industri.
“Lombok Utara ini daerah pariwisata, tetapi kita masih lemah di kemampuan bahasa. Akibatnya banyak tenaga kerja dari luar yang masuk dan mengisi peluang kerja di tiga gili,” ujarnya.Senin 18/05/2026
Ia menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah, khususnya melalui penguatan program pelatihan di BLK Lombok Utara. Tidak hanya kursus bahasa, Artadi juga meminta adanya pelatihan keterampilan praktis yang langsung terhubung dengan kebutuhan dunia kerja.
Mulai dari kursus spa, salon, menjahit hingga pelatihan lain yang mendukung industri pariwisata disebut harus diperbanyak agar masyarakat lokal tidak terus menjadi penonton di daerah sendiri.
“Kalau masyarakat mau bekerja di spa, maka BLK harus siapkan kursus spa. Kalau salon, harus ada pelatihannya. Jadi masyarakat kita benar-benar siap kerja,” tegasnya.
Ia menilai selama ini pembukaan lapangan pekerjaan belum sepenuhnya memberi manfaat maksimal bagi warga lokal karena kualitas dan kemampuan tenaga kerja masih kalah dibanding pencari kerja dari daerah lain.
“Percuma lapangan kerja dibuka kalau masyarakat kita tidak punya kemampuan untuk bersaing,” katanya.
Selain sektor pariwisata, Artadi juga menyoroti persoalan calon tenaga kerja Indonesia (TKI) yang akan diberangkatkan ke luar negeri. Menurutnya, lemahnya kemampuan dasar, terutama bahasa, membuat banyak calon pekerja harus terlalu lama berada di penampungan di Jakarta sebelum diberangkatkan.
Kondisi itu dinilai rawan menimbulkan persoalan sosial maupun kerugian finansial bagi masyarakat.
Ia berharap pelatihan di BLK dapat menjadi solusi agar calon pekerja migran sudah siap sejak dari daerah asal, sehingga tidak perlu berbulan-bulan menjalani pelatihan tambahan di luar daerah.
“Kadang masyarakat sudah keluar biaya besar ke Jakarta, mengurus semua persyaratan, tetapi karena belum siap akhirnya pulang lagi. Itu jelas merugikan masyarakat,” ujarnya.
Terkait dukungan dari DPRD, Artadi memastikan pihak legislatif siap mendukung dari sisi anggaran selama program yang diajukan pemerintah daerah benar-benar berpihak pada peningkatan kualitas masyarakat Lombok Utara.
“Kalau memang untuk kepentingan masyarakat Lombok Utara dan programnya jelas, tentu kita siap mendukung anggarannya,” tutupnya.(Niss)
