MATARAM – Di tengah laju investasi, pertumbuhan ekonomi, dan eksploitasi sumber daya alam yang terus meningkat, Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai masih menghadapi paradoks pembangunan.
Daerah yang dikenal kaya tambang, pariwisata, kelautan, dan pertanian itu justru masih bergulat dengan kemiskinan, ketimpangan wilayah, dan degradasi lingkungan.
Paradoks tersebut menjadi sorotan utama dalam Forum Dialog Cendekiawan yang digelar Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) NTB di Bhumi Resto Mataram, Sabtu (6/6/2026).
Forum yang menjadi ruang diskusi perdana Pemuda ICMI NTB itu mengangkat tema “Pembangunan NTB Berkelanjutan: Tantangan Kemiskinan, Ketimpangan Wilayah, dan Tata Kelola Sumber Daya Alam”.
Ketua Pemuda ICMI NTB, Dr. Alfisyahrin, M.Si., menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi dan capaian statistik pemerintah.
Menurutnya, ukuran keberhasilan pembangunan sesungguhnya terletak pada kemampuan menghadirkan kesejahteraan yang merata, menjaga kelestarian lingkungan, serta membuka akses ekonomi yang adil bagi seluruh masyarakat.
“NTB memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Namun pertanyaan besarnya, mengapa kemiskinan masih menjadi persoalan yang terus kita temukan? Mengapa ketimpangan pembangunan antarwilayah masih terjadi?” ujar Alfisyahrin.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya gejala resource curse atau kutukan sumber daya alam, yakni situasi ketika daerah kaya sumber daya justru gagal mengonversi kekayaan tersebut menjadi kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Menurut Alfisyahrin, pembangunan selama ini cenderung terkonsentrasi di kawasan-kawasan tertentu yang menjadi pusat investasi dan pariwisata, sementara sejumlah daerah lain masih tertinggal dalam pembangunan infrastruktur maupun akses ekonomi.
Pada saat yang sama, eksploitasi sumber daya alam terus berlangsung dan meninggalkan persoalan lingkungan yang semakin serius.
“Industri ekstraktif tidak bisa selamanya menjadi tumpuan pembangunan. Deposit tambang akan habis, tetapi dampak kerusakan lingkungan bisa diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.
Karena itu, Pemuda ICMI NTB mendorong pemerintah daerah mulai menggeser orientasi pembangunan ke sektor-sektor produktif yang lebih berkelanjutan seperti pertanian, peternakan, perikanan, dan ekonomi kerakyatan yang mampu menciptakan pemerataan sekaligus menjaga daya dukung lingkungan.
