Soal Ujian Diduga Bermuatan Tak Pantas Viral, Dikbud KLU Sebut Banyak Kejanggalan

Lombok Utara, SIARPOST – Jagat media sosial di Lombok Utara belakangan dihebohkan dengan beredarnya tangkapan layar yang diklaim sebagai soal ujian siswa.

Dalam salah satu butir soal yang viral, terdapat pilihan jawaban dan redaksi yang dinilai mengandung unsur tidak pantas serta menyeret nama wilayah Bayan, Lombok Utara.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Utara, M. Najib,Selasa (09/06/2026) menegaskan bahwa materi yang beredar itu sangat diragukan keasliannya sebagai soal ujian yang dibuat oleh guru atau lembaga pendidikan resmi.

Menurut Najib, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan terlebih dahulu apakah dokumen yang beredar benar-benar merupakan soal ujian.

Jika memang terbukti soal resmi, maka asal-usul dan pihak yang menyusunnya dapat ditelusuri. Namun setelah mencermati isi dan struktur soal yang viral, pihaknya justru menemukan banyak kejanggalan mendasar.

“Saya memastikan ini bukan soal yang dibuat oleh guru. Dari sisi kaidah penyusunan soal saja sudah banyak yang keliru,” tegas Najib.

Sebagai seorang pendidik, Najib menjelaskan bahwa sebuah soal yang baik harus memenuhi unsur validitas, reliabilitas, dan objektivitas.

Selain itu, pilihan jawaban dalam soal juga harus memiliki daya kecoh yang baik agar peserta didik menjawab berdasarkan pengetahuan, bukan sekadar menebak.

Ia mencontohkan salah satu soal yang viral, di mana tiga pilihan jawaban merujuk pada wilayah di Lombok Timur, sementara satu pilihan lainnya tiba-tiba menyebut Bayan di Lombok Utara.

Menurutnya, pola seperti itu tidak sesuai dengan prinsip penyusunan soal yang benar karena terlalu mudah mengarahkan siswa pada jawaban tertentu.

Tak hanya itu, Najib juga menyoroti penggunaan kata-kata yang dianggap tidak pantas dimunculkan dalam soal untuk tingkat SMP.

Beberapa istilah yang muncul dalam tangkapan layar tersebut dinilai tidak memenuhi standar etika pendidikan dan tidak layak dijadikan materi evaluasi peserta didik.

Kejanggalan lain juga ditemukan pada ketidaksesuaian antara pilihan jawaban dan keterangan yang dicantumkan dalam tanda kurung. Menurut Najib, kesalahan-kesalahan seperti itu semakin menguatkan dugaan bahwa dokumen yang beredar merupakan hasil editan yang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu.

“Ini editan. Tidak mungkin guru yang memahami cara membuat soal yang benar menyusun soal seperti ini. Banyak kesalahan mendasar yang menunjukkan bahwa ini bukan instrumen untuk mengukur kemampuan siswa,” ujarnya.

Exit mobile version