Di Tengah Gempuran Era Digital, Anak-Anak Tanpa Gadget Ini Pilih Menghafal Al-Qur’an dan Mengejar Prestasi

Sumbawa Barat, SIARPOST – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, ketika banyak anak seusia mereka akrab dengan telepon pintar, media sosial, dan permainan daring, sekelompok pelajar dari Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat dan Lombok Timur, justru menunjukkan jalan berbeda.

Mereka memilih fokus belajar, menghafal Al-Qur’an, dan membangun prestasi tanpa bergantung pada gadget.

Mereka adalah Syafara, Salsa, dan Dini yang menempuh pendidikan di SMA Tahfidzul Qur’an Al Azhar Maluk. Ada pula Ubaid, siswa SDN 1 Maluk, serta Pio, siswa SDIT Al Azhar Maluk. Sementara Ajeng menimba ilmu di Pondok Syekh Abdurrahman, Kota Raja, Lombok Timur.

Kakak mereka, Tia, baru saja menyelesaikan pendidikan dan terus memberikan semangat kepada adik-adiknya untuk tetap istiqamah dalam belajar. Yang menarik, anak-anak tersebut hampir tidak menggunakan telepon genggam selama menjalani pendidikan.

Pilihan itu bukan karena keterbatasan, melainkan karena kesadaran untuk menjaga fokus belajar dan memperbanyak waktu bersama Al-Qur’an.

Kisah serupa juga datang dari kakak Syafara, M. Rangga Arfiyan Matenggo Mena, mahasiswa semester tiga STIQ. Sebelumnya, saat masih menjadi mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, ia berhasil meraih Juara II Musabaqah Hifdzul Hadis Tingkat Mahasiswa se-Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2023.

Ibundanya, Yanti, menceritakan bahwa putranya secara sadar memilih melepaskan penggunaan telepon genggam demi mengejar cita-cita menjadi penghafal Al-Qur’an dan mendalami ilmu agama.

“Anak saya memilih meninggalkan handphone agar lebih fokus belajar dan menghafal Al-Qur’an. Alhamdulillah, pilihan itu membawanya meraih berbagai prestasi,” tutur Yanti.

Menurutnya, lingkungan pondok pesantren telah membentuk karakter anak-anak agar lebih disiplin, mandiri, dan mampu mengendalikan diri dari berbagai distraksi digital.

Fenomena tersebut menjadi contoh bahwa kemajuan teknologi tidak selalu harus diikuti dengan ketergantungan terhadap gadget.

Dengan pengawasan keluarga, lingkungan pendidikan yang baik, serta kemauan yang kuat dari anak, teknologi dapat ditempatkan sesuai kebutuhan tanpa mengganggu proses belajar.

Kisah mereka juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang mendorong perlindungan anak di ruang digital.

Pemerintah menekankan pentingnya pembatasan penggunaan gadget dan media digital bagi anak sesuai usia, guna mengurangi risiko kecanduan, paparan konten negatif, perundungan siber, hingga gangguan terhadap perkembangan sosial dan kemampuan belajar.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan pada anak dapat menurunkan konsentrasi belajar, mengganggu kualitas tidur, serta mengurangi interaksi sosial secara langsung. Karena itu, keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan aktivitas belajar menjadi hal yang sangat penting.

Anak-anak dari Maluk ini membuktikan bahwa prestasi tidak ditentukan oleh mahalnya telepon genggam yang dimiliki, melainkan oleh kedisiplinan, ketekunan, doa, dan semangat untuk terus belajar.

Di saat sebagian anak berlomba memiliki gadget terbaru, mereka justru berlomba menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an, memperdalam ilmu agama, dan mengukir prestasi.

Sikap sederhana tersebut menjadi inspirasi bahwa masa depan yang gemilang dibangun dari karakter yang kuat, bukan dari seberapa lama seseorang menghabiskan waktu di depan layar.

Semoga kisah mereka menjadi motivasi bagi para orang tua untuk lebih bijak mendampingi anak dalam menggunakan teknologi, sekaligus menginspirasi generasi muda Indonesia agar menjadikan ilmu pengetahuan, akhlak mulia, dan Al-Qur’an sebagai bekal utama dalam meraih cita-cita. (Red).

Exit mobile version