Di tengah meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kondisi APBD yang relatif sehat, Kabupaten Lombok Utara justru menghadapi sinyal peringatan dari sektor ketenagakerjaan.
LOMBOK UTARA, SIAR POST | Data BPS menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Lombok Utara naik dari 1,40 persen pada 2023 menjadi 2,68 persen pada 2025.
Artinya, tingkat pengangguran hampir dua kali lipat hanya dalam dua tahun.
Kenaikan tersebut terjadi ketika partisipasi angkatan kerja justru meningkat dari 76,19 persen menjadi 76,77 persen.
Kondisi ini menunjukkan semakin banyak masyarakat yang masuk ke pasar kerja, tetapi kesempatan kerja belum mampu tumbuh secepat pertambahan pencari kerja.
Di sisi lain, kemampuan fiskal daerah justru mengalami perbaikan.
Pada 2025 pendapatan daerah mencapai Rp1,231 triliun, melampaui target APBD.
Memasuki pertengahan 2026, PAD kembali melampaui target Triwulan II dengan realisasi 41,8 persen.
Namun kondisi tersebut belum diikuti percepatan belanja pembangunan.
DPRD Lombok Utara sebelumnya menyoroti rendahnya realisasi belanja program langsung yang hingga awal Juli masih sekitar 10 persen, sementara sebagian besar anggaran terserap untuk belanja pegawai.
Ekonom menilai lambatnya belanja modal dapat menghambat penciptaan lapangan kerja karena proyek pembangunan, infrastruktur, hingga kegiatan ekonomi masyarakat belum berjalan optimal.
Kabupaten Lombok Utara sebenarnya memiliki potensi besar melalui sektor pariwisata. Pemerintah juga optimistis musim kunjungan wisata pada semester kedua akan meningkatkan PAD.
Namun pertanyaan besarnya adalah apakah peningkatan pendapatan daerah tersebut juga mampu membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Tanpa percepatan realisasi belanja yang produktif dan menyerap tenaga kerja, peningkatan PAD dikhawatirkan hanya menjadi keberhasilan administrasi fiskal, sementara masyarakat masih menghadapi sulitnya memperoleh pekerjaan. (Red)
