Sekolah Rakyat Lombok Utara Hampir Rampung, Terkendala Minim Peminat: Orang Tua Belum Rela Anak Tinggal di Asrama

LOMBOK UTARA, SIAR POST – Pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Lombok Utara (KLU) telah menunjukkan progres signifikan. Dinas Sosial (Dinsos) KLU mencatat pembangunan fisik sekolah tersebut sudah mencapai lebih dari 70% dan ditargetkan mulai beroperasi pada Agustus mendatang.

Namun, di balik progres pembangunan yang menggembirakan itu, pemerintah daerah justru menghadapi tantangan lain, yakni minimnya minat orang tua untuk mendaftarkan anak mereka di jenjang Sekolah Dasar (SD).

Kepala Dinas Sosial Lombok Utara, Fathurahman, mengatakan, kendala utama bukan pada proses pembangunan gedung maupun perekrutan siswa SMP dan SMA, melainkan pada penerimaan siswa SD karena sebagian besar orang tua belum siap melepas anaknya untuk tinggal di asrama.

“Untuk pembangunan alhamdulillah sudah di atas 70%. Kendala yang kami hadapi justru di penerimaan siswa SD. Banyak orang tua yang belum rela melepas anaknya karena sistem Sekolah Rakyat ini adalah boarding school atau berasrama,” ujarnya,Kamis 02/07/2026

Menurutnya, jika seorang anak masuk Sekolah Rakyat sejak jenjang SD, maka mereka akan menempuh pendidikan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah tersebut hingga sekitar 12 tahun. Kondisi ini membuat sebagian orang tua masih ragu untuk mendaftarkan anaknya.

Meski demikian, Fathurahman optimistis persepsi masyarakat akan berubah seiring berjalannya waktu. Ia mencontohkan sejumlah daerah yang telah memiliki Sekolah Rakyat rintisan, di mana masyarakat kini justru berlomba-lomba memasukkan anaknya setelah melihat kualitas pendidikan dan fasilitas yang diberikan.

“Di daerah lain yang sudah berjalan, masyarakat berebut masuk karena melihat siswa Sekolah Rakyat benar-benar dimuliakan. Semua kebutuhan dan perlengkapan difasilitasi, ditambah pembentukan karakter yang juga menjadi perhatian utama,” katanya.

Untuk tahun pertama ini, Lombok Utara mendapat kuota sebanyak 270 siswa, terdiri dari tiga rombongan belajar (rombel) SD sebanyak 90 siswa, tiga rombel SMP sebanyak 90 siswa, dan tiga rombel SMA sebanyak 90 siswa.

Dari jumlah tersebut, kuota untuk jenjang SMP dan SMA sudah terisi penuh. Sementara untuk SD, pemerintah masih terus melakukan pendekatan kepada masyarakat.

Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan Pekerja Sosial Masyarakat, bahkan turun langsung ke lapangan untuk melakukan edukasi kepada orang tua mengenai manfaat dan keunggulan Sekolah Rakyat.

“Teman-teman PKH dan PSM terus melakukan penjangkauan, memberikan penyuluhan dan menjelaskan fasilitas serta keunggulan Sekolah Rakyat. Tetapi memang untuk jenjang SD masih membutuhkan waktu agar orang tua lebih yakin,” jelasnya.

Exit mobile version