SUMBAWA BARAT, SIAR POST – Panti Asuhan Baiti Nurjannah di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) tengah menghadapi tantangan besar. Lahan yang selama ini menjadi tempat tinggal sekaligus pembinaan puluhan anak yatim dan dhuafa akan berakhir masa hibah pinjam pakainya pada November 2026.
Jika hingga batas waktu tersebut belum memiliki lahan baru, pengelola panti berharap masih diberikan kebijakan oleh ahli waris pemilik lahan agar anak-anak tetap dapat tinggal sementara sambil mencari solusi yang lebih permanen.
Pengelola Panti Asuhan Baiti Nurjannah, Patmawati, mengungkapkan bahwa sejak awal berdiri pada 2018, lahan yang digunakan merupakan milik pribadi yang diberikan dengan status hibah pinjam pakai.
“Awalnya kami berharap lahan itu bisa langsung kami beli. Namun pemilik lahan sudah meninggal dunia, sehingga sekarang keputusan berada di tangan ahli waris. Kami tidak bisa memaksakan apa pun selain terus berikhtiar mencari jalan terbaik demi anak-anak,” ujarnya saat diwawancarai beberapa waktu lalu.
Patmawati menjelaskan, meski lahannya bukan milik panti, hampir seluruh bangunan yang berdiri di atasnya dibangun secara bertahap menggunakan dana dan bantuan para dermawan. Mulai dari aula, kamar tidur, dapur, mushala hingga berbagai fasilitas penunjang lainnya.
“Luas lahannya sekitar lima sampai enam are. Bangunan yang ada sekarang kami bangun sendiri secara bertahap,” katanya.
Menurutnya, masa hibah pinjam pakai akan berakhir pada November 2026. Apabila saat itu panti belum memiliki lahan baru, ia berharap ahli waris masih memberikan kesempatan sekitar satu tahun agar aktivitas panti tetap berjalan sambil mencari solusi.
“Kami berharap masih bisa diberikan waktu, mungkin di bawah satu tahun atau maksimal satu tahun, supaya kami bisa mencari lahan baru. Yang paling kami pikirkan adalah keberlangsungan anak-anak,” ungkapnya.
Patmawati juga berharap Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, Pemerintah Provinsi NTB, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), maupun para donatur dapat bersama-sama membantu mewujudkan lahan permanen bagi panti tersebut.
Menurutnya, kebutuhan paling mendesak saat ini bukan hanya bangunan, melainkan kepastian lahan agar anak-anak memiliki tempat tinggal yang aman untuk jangka panjang.
“Kami berharap ada bantuan lahan atau bantuan dana. Kalau bangunan, insyaallah bisa kami bangun secara bertahap. Yang paling penting sekarang adalah lahannya,” jelasnya.
Ia menilai lahan yang saat ini ditempati juga sudah cukup sempit untuk menampung seluruh aktivitas anak-anak. Karena itu, apabila nantinya memperoleh lahan baru, pihak panti berharap memiliki area yang lebih luas sehingga anak-anak dapat bermain, belajar, dan berkembang dengan lebih nyaman.
Patmawati memperkirakan kebutuhan anggaran sekitar Rp1 miliar sudah dapat digunakan untuk memperoleh lahan yang lebih memadai beserta bangunan awal sebagai tempat tinggal anak-anak.
Meski menghadapi kondisi yang tidak mudah, ia mengaku tetap optimistis. Baginya, setiap ikhtiar yang dilakukan akan selalu membuka jalan apabila disertai doa dan kepedulian banyak pihak.
