Taek Lauk, Ritual yang Menjaga Jejak Sejarah dan Merawat Persaudaraan Warga Kayangan

LOMBOK UTARA,SIARPOST – Di tengah arus modernisasi yang perlahan mengikis tradisi lokal, masyarakat Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, kembali menunjukkan bahwa warisan leluhur masih hidup dan dijaga bersama. Ritual adat Taek Lauk,yang digelar di Gunung Kayangan atau Montong Gedeng, Dusun Sidutan, Rabu (29/7/2026), bukan sekadar prosesi budaya, tetapi menjadi momentum memperkuat persaudaraan sekaligus menjaga sejarah yang diwariskan turun-temurun.

Ratusan warga tampak berarak menuju lokasi ritual dengan penuh khidmat. Mereka berjalan bersama dalam suasana kebersamaan, mencerminkan kuatnya ikatan sosial yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat di wilayah tersebut.

Ritual tersebut diikuti oleh Pemerintah Desa Kayangan bersama tokoh adat, tokoh masyarakat, serta dihadiri Kasi Pemerintahan Kecamatan Kayangan Mustawa, A.Md, unsur Koramil Kayangan, Polsek Kayangan, dan seluruh perangkat desa.

Kepala Desa Kayangan, Edi Kartono, S.E., menjelaskan bahwa pelaksanaan Taek Lauk berpedoman pada kalender adat Jango Bangar, yang setiap tahunnya dilaksanakan pada bulan lima, tepat tanggal 14 Hijriah. Tahun ini ritual berlangsung pada 29 Juli 2026 yang bertepatan dengan 14 Safar 1448 Hijriah.

“Pelaksanaan ritual adat Taek Lauk ditetapkan berdasarkan kalender Jango Bangar. Kami meyakini ritual pada bulan lima ini memiliki makna penting dalam menjaga kelestarian budaya dan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan para leluhur,” ujarnya.

Menurut Edi, Taek Lauk merupakan rangkaian tradisi yang tidak terpisahkan dengan ritual Taek Daya, yang sebelumnya dilaksanakan di Gunung Kenawan oleh Pemerintah Desa Santong Mulia bersama masyarakat adat.

“Setelah ritual Taek Daya di Gunung Kenawan, sebulan berikutnya kami melaksanakan Ritual Adat Taek Lauk. Hingga saat ini kami terus mempertahankan cerita dan tradisi yang diwariskan oleh para sesepuh terdahulu,” katanya.

Lebih jauh, Edi mengisahkan bahwa ritual Taek Lauk merupakan napak tilas perjalanan Raden Panji Maskolo, sosok yang diyakini memiliki hubungan persaudaraan dengan Datu Sesait. Kisah tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah lisan masyarakat adat Kayangan.

Untuk membuktikan hubungan persaudaraan itu, Raden Panji Maskolo disebut diminta membawa benang sekisi mengelilingi Pulau Lombok. Apabila benang tersebut kembali menyatu di titik awal perjalanan, maka persaudaraan itu dianggap terbukti. Namun di tengah perjalanan, Raden Panji Maskolo wafat sebelum menyelesaikan misinya.

“Para pengikut beliau kemudian menggotong jenazahnya dari wilayah Pal 8 Bayan hingga ke tempat ini. Dari perjalanan itulah kemudian lahir ritual Taek Lauk sebagai bentuk mengenang tapak tilas perjalanan Raden Panji Maskolo,” jelasnya.

Dalam cerita yang terus diwariskan para tokoh adat, lokasi yang kini dikenal sebagai Dusun Sidutan juga memiliki kaitan erat dengan kisah tersebut. Konon, saat berada di kawasan Gunung Kayangan, jenazah Raden Panji Maskolo hendak disedut atau dipindahkan, namun beliau meminta untuk dimakamkan di tempat itu. Dari kisah itulah nama Dusun Sidutan dipercaya berasal.

Bagi masyarakat Kayangan, ritual ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa persaudaraan tidak hanya lahir karena hubungan darah.

“Kegiatan ritual ini mengingatkan kita bahwa persaudaraan tidak harus berasal dari satu keturunan. Persaudaraan dalam memperjuangkan kebenaran, dalam hidup bermasyarakat, dan dalam menjaga keyakinan bersama memiliki makna yang jauh lebih kuat. Karena itu kami mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga tradisi adat serta melestarikan budaya lokal yang menjadi identitas wilayah adat kita,” tutup Edi.

Ritual Taek Lauk menjadi bukti bahwa di tengah perubahan zaman, masyarakat Kayangan masih memegang teguh nilai-nilai warisan leluhur. Tradisi ini tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga menjadi perekat kebersamaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.(Niss)

Exit mobile version