Bukan Sekedar Mendaki Tapi Bukit Nanggi Sembalun Adalah Cerita Yang Akan Selalu Dibawa Pulang: Merbabunya Lombok

{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":[],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"clone":1,"stretch":2,"transform":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}

Jalur mulai terasa lebih menanjak, tetapi sebagian perjalanan masih berada di kawasan hutan. Di sinilah fisik mulai diuji. Napas mulai lebih berat, kaki mulai terasa bekerja lebih keras, dan beberapa kali mungkin muncul pertanyaan klasik dalam hati:

“Masih jauh nggak, sih?” Tenang. Perjalanan belum selesai.

Justru setelah Pos 2, tantangan sekaligus keindahan Bukit Nanggi mulai terasa semakin lengkap.

Dari Pos 2 menuju puncak, jalur semakin menanjak dan perlahan keluar dari kawasan hutan. Pepohonan mulai berkurang dan panorama terbuka mulai mendominasi.

Bagian ini menjadi salah satu tantangan dalam pendakian Bukit Nanggi. Waktu tempuh dari Pos 2 hingga puncak bisa mencapai sekitar 1,5 jam, tergantung kondisi jalur dan kemampuan masing-masing pendaki.

Tetapi ada satu hal yang membuat perjalanan terasa berbeda. Semakin lelah kaki, semakin indah pemandangan yang terbuka di depan mata.

Di sepanjang jalur, pendaki akan menemukan panorama Sembalun dengan latar pegunungan dan Gunung Rinjani. Pemandangan seperti ini tentu tidak setiap hari bisa dinikmati.

Capek? Jelas. Tapi pemandangannya seperti membayar lunas rasa lelah itu.

Bahkan bisa jadi, inilah salah satu momen ketika kita sadar bahwa perjalanan yang melelahkan ternyata bisa menghasilkan kenangan yang begitu mahal.

Jangan Lupa Masker, Jaket, dan Perlengkapan Pendakian

Ada beberapa perlengkapan yang sebaiknya dipersiapkan sebelum mendaki Bukit Nanggi. Sepatu yang nyaman dan memiliki grip baik, jaket, tracking pole, headlamp apabila mendaki atau berjalan malam, celana gunung, air minum, serta makanan menjadi perlengkapan penting.

Jaket juga jangan dianggap sepele, terutama bagi pendaki yang berangkat pagi atau bermalam di atas. Udara di ketinggian bisa terasa sangat dingin.

Masker juga bisa menjadi perlengkapan tambahan yang berguna, khususnya ketika melewati jalur berdebu dan berpapasan dengan pendaki lain yang sedang turun.

Dan satu hal yang tidak kalah penting: bawa turun kembali sampahmu.

Jika pengelola basecamp memberikan kantong plastik untuk membawa sampah, gunakan dengan baik. Keindahan Bukit Nanggi bukan hanya untuk dinikmati hari ini, tetapi juga harus tetap terjaga untuk pendaki berikutnya.

Setelah melewati jalur yang cukup menguras tenaga, akhirnya sampailah di puncak Bukit Nanggi. Di hadapan mata terbentang savana hijau yang luas dan indah.

Tidak heran jika ada yang menyebut Bukit Nanggi sebagai “Merbabu-nya Lombok”. Hamparan savana di atas bukit memberikan nuansa yang berbeda dari jalur pendakian sebelumnya.

Di sini pendaki bisa beristirahat, menikmati udara sejuk, mengabadikan foto, atau sekadar duduk sambil memandang panorama Sembalun dan Gunung Rinjani.

Namun, kalau datang pada akhir pekan, terutama malam Minggu, jangan kaget jika suasananya cukup ramai. Banyak pendaki yang memilih mendirikan tenda dan menikmati malam dari ketinggian.

Suara percakapan, tawa, dan sapaan dari sesama pendaki justru menjadi bagian dari cerita perjalanan.

Salah satu alasan Bukit Nanggi begitu menarik adalah panorama matahari terbit dan terbenamnya.

Saat pagi, sunrise perlahan muncul dan menyinari lanskap Sembalun. Cahaya matahari yang mulai menyentuh perbukitan menciptakan suasana yang sulit digantikan oleh pemandangan dari perkotaan.

Sementara sore hari menghadirkan pertunjukan yang berbeda. Sunset dengan latar Gunung Rinjani.

Bayangkan duduk di atas savana, udara terasa sejuk, matahari perlahan turun, sementara Rinjani berdiri megah di kejauhan.

Tidak perlu banyak kata. Kadang keindahan alam memang lebih mudah dirasakan daripada diceritakan.

Bagi yang gemar mengabadikan perjalanan, Bukit Nanggi punya banyak sudut yang menarik.

Savana, Gunung Rinjani, perbukitan Sembalun, hingga jalur pendakian dapat menjadi latar foto maupun video. Apalagi ketika cahaya pagi atau sore sedang bagus.

Mau membuat video perjalanan? Bisa. Mau bikin konten cinematic? Banyak spot yang bisa dicoba.

Bahkan berjalan santai di tengah savana dengan latar Rinjani saja sudah terasa seperti sedang berada dalam sebuah adegan film.

Namun jangan sampai terlalu sibuk mengejar foto hingga lupa menikmati suasana.

Sebab, ada pemandangan yang mungkin bisa direkam kamera, tetapi sensasinya hanya bisa dirasakan ketika kita benar-benar berada di sana.

Exit mobile version