Om Bogel, Suhu di Barisan Paling Belakang yang Pastikan 34 Pendaki Sampai Puncak Tembesi

LOMBOK TIMUR, SIAR POST — Kalau melihat rombongan pendaki berjalan menuju puncak, perhatian biasanya tertuju kepada mereka yang berada di depan. Namun di balik perjalanan sukses 34 pendaki Hora Hore menuju Puncak Tembesi, ada satu sosok yang justru memilih berada di barisan paling belakang.

Namanya Dwi, tetapi di kalangan pendaki ia lebih akrab disapa Om Bogel.

Usianya sekitar 60 tahun. Namun jangan buru-buru mengira langkahnya tertinggal karena usia.

Selama kurang lebih 10 jam perjalanan dari jalur Timbanuh hingga area camp, Om Bogel berada di belakang rombongan.

Bukan karena lamban. Bukan pula karena tak mampu berjalan lebih cepat. Ia berada di sana karena tanggung jawab.

Sebagai koordinator tim Hora Hore, Om Bogel memastikan tidak ada satu pun anggota rombongan yang tertinggal, kesulitan atau berjalan sendirian.

Ketika ada pendaki mulai kelelahan, ia menyemangati.

Ketika ada yang mengalami kram atau cedera, ia memastikan mendapat bantuan.

Ketika langkah mulai melambat, ia tetap berada di belakang untuk menjaga ritme rombongan.

Seolah ada satu prinsip yang terus ia pegang. Semua harus sampai.

Perjalanan Sabtu, 3 Oktober 2026 itu menjadi bukti bagaimana pengalaman seorang pendaki bukan hanya diukur dari seberapa cepat mencapai puncak, tetapi juga dari seberapa besar kepeduliannya kepada orang-orang yang berjalan bersamanya.

Sesampainya di area camp, tugas Om Bogel ternyata belum selesai.

Ia kembali memastikan koordinasi para porter, mengecek perlengkapan, memastikan kebutuhan tenda berjalan baik, sekaligus melihat kondisi seluruh anggota rombongan.

Bagi sebagian orang, sampai di tenda mungkin menjadi tanda untuk berhenti sejenak. Bagi Om Bogel, pekerjaan sebagai koordinator belum benar-benar selesai.

Malam itu ia memastikan semuanya aman dan siap menghadapi perjalanan berikutnya.

Hingga akhirnya, Minggu dini hari, 4 Oktober 2026, seluruh rombongan kembali bergerak untuk melakukan summit attack menuju Puncak Tembesi.

Dalam gelapnya jalur dan dinginnya udara Rinjani, semangat kembali dibangun. Satu per satu pendaki melangkah.

Om Bogel terus mengawal perjalanan hingga akhirnya seluruh anggota tim berhasil mencapai puncak di ketinggian sekitar 2.853 MDPL.

Di sana, Danau Segara Anak dan Gunung Barujari terbentang di hadapan mata.

Sebuah perjalanan panjang akhirnya terbayar. Namun ada satu hal yang menarik dari sosok Om Bogel.

Usia ternyata bukan alasan untuk berhenti.

Awal tahun 2026 yang lalu, ia kembali menapaki Gunung Rinjani. Jauh sebelum itu, ketika usianya masih sangat muda, ia juga sudah akrab dengan jalur-jalur pegunungan.

Tak heran jika di kalangan orang-orang yang mengenalnya, Om Bogel disebut sebagai “suhu”.

Melihat langkahnya, julukan itu terasa bukan sekadar panggilan. Kakinya masih kuat. Langkahnya masih tegap. Tatapannya masih tajam.

Tatapan seorang anak gunung sejati yang seperti belum selesai dengan kecintaannya kepada alam.

Dan mungkin, itulah pelajaran terbesar yang ditinggalkan Om Bogel dari perjalanan kali ini.

Bahwa mendaki bukan hanya tentang usia. Bukan tentang siapa yang paling muda. Bukan pula tentang siapa yang paling cepat.

Exit mobile version