LOMBOK UTARA,SIARPOsT— Pembangunan Sekolah Rakyat (SR) permanen di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB), memasuki tahap akhir. Hingga pertengahan Oktober 2026, progres pembangunan sekolah tersebut telah mencapai 92,08 persen.
Capaian ini menjadi langkah penting bagi pengembangan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Namun, kesiapan sarana dan prasarana masih menjadi perhatian sebelum seluruh rangkaian kegiatan sekolah dapat berjalan optimal.
Kepala Bidang Dayasos, Sukardim Husein, mengatakan Lombok Utara menjadi satu-satunya kabupaten di NTB yang masuk dalam tahap kedua pembangunan Sekolah Rakyat permanen.
“Alhamdulillah, progres bangunannya saat ini kurang lebih 92,08 persen. Artinya, sudah mendekati tahap finishing,” ungkap Sukardim.Rabu 14/10/2026
Menurutnya, keberadaan Sekolah Rakyat permanen di Lombok Utara tidak hanya diperuntukkan bagi siswa dari daerah setempat. Sekolah tersebut juga menjadi tempat penampungan sementara bagi peserta didik dari sejumlah wilayah di NTB yang sebelumnya mengikuti program Sekolah Rakyat rintisan.
Saat ini, sekitar 600 siswa dari jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA) telah mulai mengikuti pembelajaran. Para siswa tersebut berasal dari Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Barat, hingga Sumbawa.
Karena fasilitas Sekolah Rakyat permanen di Lombok Utara menjadi yang pertama tersedia dalam skema tersebut di NTB, para siswa dari daerah lain untuk sementara turut diakomodasi di sekolah ini.
Meski pembelajaran telah dimulai, pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) masih menyesuaikan kesiapan fasilitas pendukung.
Sukardim menyebutkan, MPLS direncanakan berlangsung pada akhir Oktober 2026. Jadwal tersebut masih bergantung pada kesiapan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung aktivitas sekolah.
Semula, pelaksanaan MPLS ditargetkan pada 14 Juli 2026. Namun, proses pembangunan yang belum sepenuhnya rampung menyebabkan agenda tersebut harus ditunda.
“Kalau idealnya memang 14 Juli, tetapi karena berkaitan dengan proses pembangunan yang belum siap untuk MPLS, sehingga terjadi penundaan. Mudah-mudahan akhir Oktober ini bisa dilaksanakan, tergantung kesiapan sarana dan prasarana,” jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan program Sekolah Rakyat permanen. Di satu sisi, pembelajaran bagi ratusan siswa telah berjalan, sementara di sisi lain penyelesaian fasilitas masih dikebut agar seluruh kegiatan sekolah dapat berlangsung lebih optimal.
Dengan progres pembangunan yang telah menembus 92,08 persen, penyelesaian pekerjaan tersisa menjadi tahapan penting agar Sekolah Rakyat permanen di Lombok Utara dapat segera beroperasi dengan dukungan fasilitas yang memadai.
Kehadiran sekolah ini diharapkan memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sekaligus menjadi pusat layanan pendidikan bagi peserta didik dari sejumlah kabupaten di NTB.(Niss)
