LOMBOK TENGAH, SIAR POST — Selama ini, petani jagung di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), lebih banyak mengandalkan hasil panen utama untuk memperoleh penghasilan. Namun, siapa sangka rambut jagung yang selama ini tidak dimanfaatkan justru berpeluang menjadi sumber pendapatan baru melalui pengolahan teh herbal.
Peluang ekonomi tersebut mulai dikembangkan melalui kemitraan Koperasi Sukses Tani Mandalika Jaya (STMJ), Universitas Mataram (Unram), Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) NTB, serta CV Tri Utami Jaya.
Program ini diharapkan membuka jalan bagi petani untuk tidak hanya menjual hasil panen jagung, tetapi juga terlibat dalam usaha pengolahan produk yang memiliki nilai tambah.
Ketua Koperasi STMJ, Drs. H. Ahmad Mawardi, M.M., mengatakan hampir 90 persen anggota koperasi merupakan petani. Selama ini, kegiatan usaha mereka antara lain bergerak di bidang budidaya jagung dan pembesaran ayam.
Menurut Mawardi, pemanfaatan rambut jagung menjadi teh herbal memberikan peluang baru bagi anggota koperasi untuk mengembangkan usaha dari komoditas yang sudah tersedia di lingkungan mereka.
“Kami sangat bersyukur diajak bermitra oleh Unram dan BRMP NTB. Selama ini rambut jagung tidak pernah dimanfaatkan. Dengan adanya hasil penelitian ini, kemudian disambut CV Tri Utami Jaya sebagai mitra, kami berharap rambut jagung milik petani dan anggota koperasi bisa bermanfaat dan menambah penghasilan mereka,” kata Mawardi saat peluncuran produk teh rambut jagung di rumah produksi CV Tri Utami Jaya, Kamis (29/10/2026).
Lahan Jagung 20 Hektare Jadi Modal Awal
Koperasi STMJ saat ini memiliki lahan jagung sekitar 20 hektare yang menjadi bagian dari kegiatan usaha mereka. Potensi tersebut dinilai dapat mendukung penyediaan bahan baku rambut jagung untuk pengembangan produk teh herbal.
Meski demikian, besarnya peluang pendapatan masih bergantung pada jumlah bahan baku yang dapat dikumpulkan, hasil pengolahan, biaya produksi, serta permintaan pasar.
Mawardi menjelaskan, koperasi berencana mengambil peran dalam penyediaan bahan baku sekaligus mendorong anggota mengembangkan kegiatan produksi skala rumahan.
Dengan pola tersebut, petani berpeluang memperoleh manfaat ekonomi bukan hanya dari penjualan jagung, tetapi juga dari pemanfaatan bagian tanaman yang sebelumnya terabaikan.
Koperasi juga memiliki lahan kosong yang berpotensi dimanfaatkan untuk menanam jahe dan serai. Kedua komoditas itu dapat menjadi bahan tambahan untuk mengembangkan varian produk teh.
“Kami juga memiliki lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk menanam serai dan jahe. Kalau bahan baku dan pasarnya sudah berkembang, anggota bisa ikut berproduksi dan koperasi juga memperoleh tambahan pendapatan,” ujarnya.
Jika skema kemitraan berjalan sesuai rencana, peluang usaha tersebut dapat berkembang dari penyediaan bahan baku hingga pengolahan produk. Namun, pengembangan produksi tetap membutuhkan perhitungan usaha, standar mutu, dan kepastian pasar agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani.
Rambut Jagung Diolah Menjadi Tiga Varian Teh
Peluang tersebut mulai diperkenalkan melalui peluncuran produk teh rambut jagung yang dikembangkan dengan dukungan hasil penelitian dan pendampingan teknologi.
Ir. I Wayan Swecayasa, M.Si., menjelaskan bahwa produk yang diperkenalkan memiliki tiga varian, yakni teh rambut jagung original, kombinasi jahe yang diberi nama Teh Raja, serta kombinasi serai.
Kehadiran sejumlah varian tersebut membuka peluang pengembangan produk berbasis bahan pertanian lokal. Selain rambut jagung, jahe dan serai berpotensi melibatkan petani lain dalam rantai penyediaan bahan baku apabila permintaan produk berkembang.
Produk ini diperkenalkan sebagai minuman berbahan pangan, bukan obat. Karena itu, klaim khasiat medis perlu didukung kajian ilmiah yang memadai dan tidak boleh dilebih-lebihkan dalam pemasaran.
Bagi petani, tantangan berikutnya bukan hanya menghasilkan bahan baku, melainkan memastikan kualitasnya sesuai kebutuhan produksi dan memenuhi ketentuan keamanan pangan.
BRMP dan Unram Dorong Petani Masuk Rantai Usaha
Perwakilan BRMP NTB, Baiq Triratna Erawati, menjelaskan bahwa pengembangan produk ini menjadi salah satu upaya menerapkan hasil penelitian perguruan tinggi dan lembaga riset untuk memperkuat usaha koperasi.
Ia menerangkan, program ICARE merupakan program kerja sama BRMP pusat di bawah Kementerian Pertanian dengan Bank Dunia. Dalam pelaksanaannya, koperasi menjadi salah satu wadah pengembangan usaha pada komoditas jagung dan ayam kampung unggul beserta produk turunannya.
Menurut Triratna, rambut jagung yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kini berpeluang diolah menjadi produk bernilai tambah melalui penerapan teknologi.
