Sampah Mataram Kian Genting, Akademisi Unram-UMMAT Ungkap Dampak Lingkungan dan Dorong Solusi Permanen

MATARAM, SIARPOST — Persoalan sampah di Kota Mataram dinilai sudah berada pada tahap serius dan mendesak untuk segera ditangani secara menyeluruh.

Akademisi Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Muhamad Irwan, ST., M.Eng, menegaskan bahwa masalah sampah bukan lagi soal estetika kota, melainkan ancaman nyata terhadap lingkungan dan keselamatan warga.

Sebagai akademisi sekaligus pemerhati lingkungan, Irwan menilai dampak sampah yang tidak tertangani dengan baik telah dirasakan langsung oleh masyarakat.

Mulai dari bau busuk menyengat, pencemaran lingkungan, hingga banjir yang kerap melanda Kota Mataram.

“Persoalan sampah ini sangat urgen. Dampaknya jelas, pencemaran lingkungan, bau menyengat, dan banjir. Banjir yang terjadi kemarin di Kota Mataram sangat erat kaitannya dengan sampah yang menumpuk di saluran air dan sungai,” ujar Irwan.

Ia menekankan, selama sistem pengelolaan sampah belum dibenahi secara serius dan permanen, persoalan serupa akan terus berulang setiap musim hujan.

Keseriusan persoalan ini mendorong Irwan bersama para penggiat sampah dan petugas kebersihan se-Kota Mataram melakukan audiensi dan advokasi langsung dengan Pemerintah Kota Mataram, Senin (19/1/2026).

Fokus utama pertemuan tersebut adalah penanganan sampah, khususnya di kawasan Gomong, Lingkungan Pemuda, Kelurahan Dasan Agung Baru.

Audiensi dihadiri unsur Pemerintah Kota Mataram, antara lain Asisten II Setda Kota Mataram, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kasat Pol PP, serta Camat Selaparang. Dialog berlangsung intens dan menghasilkan sejumlah kesepakatan penting.

Menurut Irwan, audiensi tersebut menjadi langkah awal yang positif karena pemerintah mulai didorong untuk tidak lagi menunda solusi permanen.

“Alhamdulillah, lewat audiensi dan advokasi bersama penggiat sampah, pemerintah merespons dan mulai mencari solusi terbaik, bukan hanya tambal sulam, tapi solusi permanen ke depan,” katanya.

Dalam pertemuan itu disepakati dua pendekatan utama penanganan sampah, yakni jangka pendek dan jangka panjang.

Untuk jangka panjang, Pemerintah Kota Mataram memastikan lokasi penumpukan sampah Gomong akan dipindahkan secara permanen dan tidak lagi difungsikan sebagai titik pembuangan, dengan target pelaksanaan pada Desember 2026.

Sementara itu, solusi jangka pendek akan segera diterapkan oleh DLH Kota Mataram melalui sistem TPS Mobile. Sampah dari kendaraan roda tiga tidak lagi ditumpuk di satu titik, melainkan langsung diangkut menggunakan dump truck agar tidak mengendap dan menimbulkan bau.

“Prinsipnya, sampah tidak boleh tercecer dan tidak boleh menumpuk. Lokasi akan dibersihkan secara bertahap agar kembali terkendali,” jelas Irwan.

Sebelumnya, DLH Kota Mataram mengakui bahwa penumpukan sampah di Gomong merupakan dampak langsung dari penutupan TPA Kebon Kongok di Lombok Barat.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kota Mataram, Dr. Vidi Partisan Yuris Gaman Jaya, S.STP., MH, menyebut hampir seluruh TPS di Kota Mataram mengalami kepenuhan.

Exit mobile version