SUMBAWA, SIAR POST — Deru motor trail memecah kesunyian perbukitan Sumbawa, Rabu pagi (21/1/2026). Bukan untuk menaklukkan alam, apalagi sekadar menyalurkan hobi.
Di atas motor trail itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhammad Iqbal, memilih cara yang tak lazim untuk mendengar suara rakyatnya, menyusuri jalan desa yang jarang tersentuh sorotan.
Ruas-ruas jalan itu di peta hanya terlihat sebagai garis tipis. Namun di atas tanahnya, jalan-jalan tersebut adalah nadi kehidupan.
Di sanalah hasil kebun dipikul dengan harapan, anak-anak melangkah ke sekolah, dan roda ekonomi desa berputar perlahan.
“Saya ingin melihat sendiri, merasakan langsung apa yang dirasakan warga. Kalau hanya membaca laporan, kita sering kehilangan rasa,” ujar Miq Iqbal di sela perjalanan.
Didampingi Ketua TP PKK NTB Shinta Agathia Soedjoko, Gubernur NTB lebih dulu diterima Bupati Sumbawa H. Syarafuddin Jarot, sebelum melanjutkan peninjauan ke jalur Lintas Moyo, tepatnya ruas Moyo–Luair di KM 20 dan KM 21,5—jalur yang saban musim hujan selalu menjadi cerita panjang keluhan warga.
Di salah satu tanjakan, rombongan berhenti. Air hujan mengalir memotong badan jalan, tanahnya lunak, bekas gerusan tampak jelas. Miq Iqbal turun dari motor, berdiri lama dalam diam, menatap jalan yang terbelah.
“Masalah jalan ini bukan cuma soal aspal. Air yang tidak tertata dan hutan yang kehilangan fungsi ikut mempercepat kerusakan,” katanya lirih namun tegas.
Jalur tersebut merupakan urat nadi pertanian dan perkebunan warga. Setiap kerusakan berarti ongkos angkut yang membengkak, waktu tempuh yang lebih lama, dan penghasilan yang kian tergerus.
“Kalau jalannya rusak, yang pertama merasakan dampaknya adalah petani. Itu yang harus kita selamatkan lebih dulu,” tegas Miq Iqbal.
Di Desa Batu Bangka, Kecamatan Moyo Hilir, sambutan warga terasa hangat dan penuh harap. Kepala Desa Abdul Wahab menyebut kehadiran gubernur di titik-titik sulit seperti itu sebagai momen langka namun sangat berarti.
“Biasanya kami hanya didengar lewat proposal. Hari ini, pemimpin datang langsung melihat kondisi kami,” ujarnya.
Sepanjang perjalanan, percakapan mengalir tanpa jarak. Warga bercerita tentang jembatan kecil yang kerap hanyut, saluran air yang tak pernah ada, hingga hutan yang perlu dijaga agar jalan tak terus menjadi korban hujan.
Semua didengar, dicatat, dan direnungkan.
“Pembangunan harus adil. Kita tidak bisa hanya membangun yang terlihat indah di kota, sementara desa terus menunggu,” kata Miq Iqbal.
Tak ada karpet merah, tak ada podium. Hanya tanah basah, jalan rusak, dan suara warga yang jujur. Di atas motor trail, Miq Iqbal seperti membaca ulang peta pembangunan NTB, bukan di ruang rapat berpendingin udara, tetapi di tempat di mana kebijakan seharusnya berpijak.
Sore menjelang, perjalanan pun usai. Namun bagi warga Sumbawa, hari itu meninggalkan satu keyakinan, perubahan sering kali bermula dari keberanian seorang pemimpin untuk turun ke jalan, menepi sejenak, dan benar-benar mendengar suara rakyat dari jalan sunyi yang selama ini mereka lalui dengan sabar.
Redaksi | SIAR POST
