“Kami Hanya Ingin Makan Sehat untuk Belajar Lebih Baik” Jeritan Siswa Empang Saat Program MBG Terhenti

Salah satu siswi SMP di Empang mengungkapkan isi hatinya karena MBG Terhenti. Sok edo

Sumbawa, SIAR POST | Di tengah gencarnya pemerintah pusat menggaungkan Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai investasi masa depan generasi muda, puluhan siswa di Kecamatan Empang justru harus menelan kekecewaan.

Program yang seharusnya memperkuat kesehatan, konsentrasi belajar, dan kesejahteraan siswa itu kini tak lagi mereka rasakan secara maksimal.

Para siswa yang tergabung dari MAN 3 Sumbawa, SMPN 3 Empang, MIN 3 Sumbawa, dan MTs, menyampaikan suara hati mereka dalam aksi damai di Kantor Camat Empang, Selasa (3/2/2026).

Dengan penuh harap, mereka menyatakan bahwa sejak dapur MBG berhenti beroperasi, rutinitas belajar mereka ikut terdampak.

“Awalnya kami sangat bersyukur. Program MBG ini sangat membantu kami agar bisa belajar lebih fokus dan sehat,” ungkap salah satu siswa dalam orasinya.

Tapi sejak terjadi kasus keracunan, pelaksanaan MBG tidak berjalan maksimal. Padahal sudah ada kesepakatan dapur kembali beroperasi.

Dalam beberapa minggu terakhir, penyaluran MBG disebut tidak konsisten. Siswa yang seharusnya menerima MBG selama lima hari sekolah, justru hanya menerima tiga hingga empat kali, bahkan pada minggu terakhir tidak menerima sama sekali.

Ketiadaan MBG bukan sekadar soal makanan. Bagi siswa, program ini adalah penopang energi belajar, terutama bagi mereka yang berangkat sekolah dengan keterbatasan ekonomi keluarga.

MBG membantu memenuhi kebutuhan gizi harian, meningkatkan daya tahan tubuh, dan mencegah siswa belajar dalam kondisi lapar.

“Kami bingung. Tidak ada penjelasan, tidak ada informasi. Kami hanya ingin kejelasan dan komunikasi yang jujur,” ujar siswa lainnya.

“Kalau memang ada kendala, sampaikan. Jangan biarkan kami menunggu tanpa kepastian.”

Para siswa juga mempertanyakan apakah jatah MBG yang tidak tersalurkan akan diganti, serta apakah memungkinkan penyaluran dialihkan sementara ke dapur lain agar program tetap berjalan.

Mereka menegaskan bahwa aspirasi ini disampaikan dengan hormat, bukan untuk menolak program, justru sebagai bentuk apresiasi terhadap program Presiden yang mereka nilai sangat bermanfaat jika dijalankan dengan baik dan bertanggung jawab.

Diketahui, berdasarkan surat perjanjian antara investor dan ketua yayasan, operasional dapur MBG Empang seharusnya berjalan sejak 16 Januari 2026 hingga Januari 2029.

Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya, dapur berhenti tanpa kejelasan, sementara siswa menjadi pihak yang paling dirugikan.

“Kami percaya setiap masalah bisa diselesaikan dengan komunikasi dan tanggung jawab bersama. Kami hanya ingin hak kami dipenuhi,” tutup pernyataan siswa.

Pewarta : Edo MH
Editor : Feryal

Exit mobile version