Bidik High Season Gili, Pemda Petakan Loker untuk Serap Tenaga Kerja Mulai Mei

Lombok Utara,SIARPOST — Pemerintah Kabupaten Lombok Utara mulai memetakan peluang lowongan kerja (loker) secara serius, seiring mendekatnya high season pariwisata di kawasan Gili. Langkah awal dilakukan dengan turun langsung ke lapangan untuk memastikan jenis pekerjaan dan jumlah tenaga kerja yang benar-benar dibutuhkan. Rabu, 04/01/2026.

Kepala Dinas DPMPTSP dan Naker Kabupaten Lombok Utara, Evi Winarni, mengatakan tim saat ini tengah bergerak ke wilayah Gili setelah sebelumnya melakukan penjajakan di wilayah darat dan berkoordinasi dengan sejumlah perkantoran, termasuk di Mataram.

“Sekarang teman-teman sedang perjalanan ke Gili. Kemarin yang di darat sudah, termasuk menghubungi kantor-kantor yang kemungkinan membuka loker. Dari situ nanti kita tahu berapa jumlah loker yang tersedia,” ujarnya.

Menurut Evi, rencana penempatan tenaga kerja ditargetkan mulai tahap awal pada bulan Mei, menyesuaikan dengan puncak kunjungan wisatawan di Gili. Soal lokasi pelaksanaan, pihaknya masih mempertimbangkan apakah akan dipusatkan di Balai Latihan Kerja (BLK) atau tetap seperti tahun lalu yang dilaksanakan di kantor.

“Pelaksanaannya nanti bisa di Tanjung atau Gangga. Kita lihat dulu, yang jelas target kami penyerapan tenaga kerja bisa lebih maksimal dan optimal,” katanya.

Saat ini, pemetaan masih difokuskan pada penjajakan jumlah loker dan klasifikasi jenis pekerjaan. Data lengkap dari perusahaan belum sepenuhnya diterima, sehingga belum bisa ditentukan sektor mana yang akan menjadi fokus utama.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya, loker terbanyak itu justru di sektor perhotelan,” jelas Evi.

Selain penempatan kerja di dalam daerah, peluang magang ke luar negeri juga masih terbuka. Namun, ia mengakui ada tantangan besar, terutama pada sektor tenaga kesehatan yang kebutuhan magangnya tinggi, tetapi minat tenaga lokal masih terbatas.

“Banyak permintaan magang nakes ke luar negeri, tapi teman-teman nakes kita cenderung lebih nyaman di dalam negeri,” ungkapnya.

Evi menegaskan, program bursa kerja ini bukan sekadar membuka loker, tetapi juga menjadi tantangan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan atau link and match.

“Harapannya penyerapan tenaga kerja bisa lebih signifikan dan berdampak pada penurunan pengangguran seperti tahun lalu. Walaupun ada juga yang mengundurkan diri atau tidak dipanggil karena spesifikasinya tidak sesuai,” katanya.

Meski demikian, ia menilai bursa kerja tetap menjadi salah satu instrumen penting untuk mempertemukan kebutuhan perusahaan dengan pencari kerja secara lebih terarah dan terukur.(Niss)

Exit mobile version