MATARAM, NTB (SIARPOST) – Suasana haru menyelimuti proses pemulangan Atek Rusmadi atau yang akrab disapa Pak Ate, warga asal Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang selama ini terbaring lemah akibat penyakit diabetes (hiperglikemi) di Lombok Utara.
Rabu dini hari (4/3/2026), tepat pukul 04.00 WITA, petugas Puskesmas Bayan bersama relawan kemanusiaan dan tim NTB Care bergerak dari Bayan menuju Mataram. Setelah singgah di kantor NTB Care, rombongan melanjutkan perjalanan ke Bandara Internasional Lombok.
Pak Ate tampak tersenyum bahagia meski kakinya masih dibalut perban putih. Senyum itu menjadi simbol harapan, bahwa sebentar lagi ia akan kembali berkumpul dengan keluarga tercinta di Bandung.
Sebelum keberangkatan, NTB Care memastikan seluruh proses administrasi berjalan lancar. Bahkan, dilakukan video call bersama Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat sebagai bentuk koordinasi dan pertanggungjawaban kemanusiaan lintas daerah.
Direktur NTB Care, Yuni Bourhany, sebelumnya menjelaskan bahwa pihaknya telah beberapa kali berkoordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat dan Dinas Sosial Kabupaten Bandung terkait kondisi kesehatan dan proses pemulangan Pak Ate.
“Alhamdulillah setelah empat hari dirawat intensif di Puskesmas Bayan, kondisi beliau membaik dan dinyatakan cukup stabil untuk dipulangkan,” ujar Yuni.
Pihak Dinas Sosial Jawa Barat pun menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepedulian NTB Care, relawan, serta tenaga kesehatan di Lombok Utara yang telah membantu warga mereka hingga bisa kembali ke tanah kelahiran.
Perjalanan Hidup yang Tak Mudah
Pak Ate bukanlah sosok biasa. Ia datang ke Lombok pada 2018 sebagai relawan pascagempa besar yang mengguncang NTB.
Saat itu ia ikut membantu pembangunan hunian sementara (huntara), masjid, dan fasilitas masyarakat lainnya.
Seiring waktu, ia memutuskan menjadi muallaf setelah sebelumnya menganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Ia sempat menikah dengan warga Lombok, namun pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian. Sejak itu, kehidupannya semakin berat.
Tinggal berpindah-pindah, kadang di masjid, kadang di rumah warga, Pak Ate bertahan hidup dengan bantuan masyarakat sekitar di Dusun Embar-Embar, Desa Andalan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Untuk makan sehari-hari pun ia bergantung pada kebaikan orang lain.
Saat kondisinya menurun akibat gula darah basah (diabetes melitus), ia dirawat di Puskesmas Bayan. Keinginannya hanya satu, pulang ke Bandung, meski ia tak memiliki biaya sepeser pun.
Kini, harapan itu menjadi kenyataan.
Dengan dukungan penuh dari NTB Care, Puskesmas Bayan, dan relawan kemanusiaan, serta bantuan dari pihak Angkasa Pura di Bandara Lombok, Pak Ate akhirnya bisa terbang kembali ke Jawa Barat.
