Lebaran Jumat atau Sabtu? Ini Penjelasan 3 Metode Penentuan Hilal Versi Ustaz Abdul Somad

MATARAM, NTB (SIAR POST) – Penentuan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kembali menjadi perbincangan publik. Apakah Lebaran jatuh pada Jumat atau Sabtu? Perbedaan ini ternyata berkaitan erat dengan metode penentuan hilal yang digunakan.

Dalam ceramahnya, Abdul Somad menjelaskan bahwa ada tiga metode utama yang digunakan dalam menentukan awal bulan Syawal.

“Besok Kamis akan dilakukan penentuan hilal dengan tiga metode,” ujar Ustaz Abdul Somad dalam ceramahnya yang beredar luas.

  1. Metode Hisab (Ilmu Falak/Astronomi)

Metode pertama adalah hisab atau perhitungan astronomi. Berdasarkan perhitungan, posisi hilal diperkirakan berada di kisaran 2 derajat lebih.

Namun, menurut standar MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), hilal baru dianggap memenuhi syarat jika mencapai ketinggian minimal 3 derajat.

Karena belum memenuhi kriteria tersebut, maka:
Kamis dihitung sebagai tanggal 29 Ramadhan
Jumat menjadi tanggal 30 Ramadhan
Sehingga Idulfitri diperkirakan jatuh pada hari Sabtu

  1. Metode Rukyah (Pengamatan Langsung)

Metode kedua adalah rukyah, yaitu melihat hilal secara langsung menggunakan mata atau alat bantu seperti teleskop.
Pengamatan dilakukan sejak setelah Ashar hingga matahari terbenam, oleh saksi yang disumpah.

Namun, jika hasil rukyah tidak memenuhi kriteria MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat, maka kesaksian tersebut bisa tidak diterima secara resmi.

Metode ini banyak digunakan oleh organisasi seperti Nahdlatul Ulama serta pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama Republik Indonesia.

  1. Kalender Global Internasional

Metode ketiga adalah kalender global internasional. Dalam konsep ini, jika hilal sudah terlihat di satu wilayah di dunia, maka seluruh umat Islam dapat mengikutinya, tanpa harus menunggu kriteria tertentu seperti 3 derajat.

Dalam ceramahnya, Ustaz Abdul Somad menyebut pendekatan ini sebagai salah satu metode yang berkembang.
Namun, perlu diluruskan bahwa secara resmi, Muhammadiyah tidak menggunakan kalender global internasional, melainkan metode hisab dengan kriteria Wujudul Hilal.

Muhammadiyah dan Wujudul Hilal

Muhammadiyah menggunakan metode hisab dengan prinsip bahwa hilal dianggap masuk bulan baru jika:
Sudah terjadi ijtimak (konjungsi)
Posisi bulan berada di atas ufuk saat matahari terbenam. Dengan metode ini, hilal tidak harus terlihat, cukup secara astronomi sudah “wujud”.

Karena berbasis perhitungan, Muhammadiyah dapat menetapkan kalender jauh hari sebelumnya, yang sering disalahartikan sebagai sistem global.

Perbedaan adalah Ijtihad

Perbedaan penentuan Lebaran sejatinya merupakan bagian dari ijtihad dalam Islam. Ketiga metode yakni rukyah, wujudul hilal, dan kalender global, memiliki dasar masing-masing baik secara syariat maupun ilmiah. Ulama sepakat bahwa perbedaan ini bukanlah persoalan akidah, melainkan cara memahami dalil.

Kesimpulan Lebaran Jumat atau Sabtu?

Jika mengikuti kriteria MABIMS: Lebaran berpotensi Sabtu
Jika menggunakan hisab wujudul hilal: bisa berbeda tergantung perhitungan.

Masyarakat diimbau untuk tetap mengikuti keputusan pemerintah atau organisasi yang diyakini, serta menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Intinya, perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi dipahami sebagai kekayaan ijtihad dalam Islam. (Red).

Exit mobile version