Selain itu, BMWI NTB juga mulai mengembangkan program berbasis sektor riil, seperti pengelolaan lahan seluas 56 hektare di Kabupaten Lombok Utara (KLU) yang dimanfaatkan untuk program pertanian, termasuk penanaman pisang yang sempat bekerja sama dengan pihak Jepang.
“Walaupun sempat ada kendala, program itu akan terus kita lanjutkan. Ini bagian dari upaya membangun usaha yang berkelanjutan,” katanya.
Ke depan, BMWI NTB menargetkan penguatan kolaborasi lintas sektor sebagai strategi utama. Dengan memaksimalkan jaringan yang dimiliki, organisasi ini optimistis mampu menciptakan ekosistem wirausaha yang lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing tinggi.
“Intinya, semua anggota harus punya usaha. Dari situ berkembang. Tapi yang mempercepat pertumbuhan itu adalah link. Link itulah yang akan membuka semua peluang,” pungkas Is Karyanto. (Red)
