Mataram, NTB (SIAR POST) – Ketua Barisan Muda Wirausaha Indonesia (BMWI) Nusa Tenggara Barat, Is Karyanto, menegaskan bahwa kekuatan utama organisasi yang dipimpinnya bukan semata pada usaha yang dimiliki anggota, melainkan pada jaringan atau koneksi (link) yang terbangun kuat dan strategis.
Hal itu disampaikannya dalam wawancara beberapa waktu lalu. Ia menyebut, BMWI tidak hanya hadir sebagai wadah berkumpulnya para pelaku usaha, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi yang menghubungkan para pengusaha dengan berbagai akses penting, mulai dari pemerintah hingga sektor keamanan.
“Kalau saya melihat saat ini link itu yang paling utama, karena teman-teman ini sudah punya usaha masing-masing. Tinggal bagaimana link itu dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha,” ujar Is Karyanto.
Menurutnya, kekuatan BMWI NTB terletak pada komposisi anggotanya yang didominasi para pemilik usaha, CEO, hingga owner perusahaan di berbagai sektor. Hal ini menjadi modal besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kolaborasi.
Ia menjelaskan, sejak awal berdiri, BMWI telah menjalankan berbagai program strategis. Pada tahun-tahun pertama, fokus utama organisasi adalah membantu pelaku usaha dalam pengurusan legalitas dan penguatan kewirausahaan, khususnya bagi pelaku UMKM.
Hasilnya cukup signifikan. BMWI NTB berhasil mendorong penerbitan sekitar 25.000 Nomor Induk Berusaha (NIB), yang turut mengantarkan NTB meraih peringkat kedua secara nasional dalam capaian tersebut, di bawah Jawa Timur. Capaian itu bahkan mendapat pengakuan dari pemerintah pusat.
“Waktu itu kita fokus menciptakan wirausaha yang berizin dan membuka lapangan kerja. Itu menjadi kontribusi nyata BMWI NTB,” jelasnya.
Keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk tokoh daerah seperti Niken Saptarini Widyastuti yang saat itu menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat BMWI NTB.
Memasuki fase berikutnya, BMWI kini menggeser fokus dari perizinan ke penguatan jaringan dan akses bisnis. Is Karyanto menilai, di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, akses terhadap pasar, permodalan, hingga kemitraan menjadi faktor penentu keberhasilan.
“Link itu adalah aset terbesar. Dari link, kita bisa buka akses permodalan, fasilitas, sampai pemasaran,” tegasnya.
Ia juga mencontohkan bagaimana jaringan yang kuat mampu mempercepat pertumbuhan usaha anggota. Melalui koneksi yang dimiliki, para anggota BMWI dapat saling terhubung dengan mitra strategis, baik di tingkat lokal, nasional, hingga internasional.
Bahkan, BMWI disebut telah memiliki jejaring organisasi hingga ke luar negeri, yang diharapkan mampu mendukung realisasi berbagai program besar pada tahun 2026 mendatang.
Di sisi internal, Is Karyanto memastikan bahwa hampir seluruh anggota BMWI NTB telah aktif menjalankan usaha masing-masing.
Beberapa di antaranya bahkan menunjukkan perkembangan pesat dengan bisnis yang kian berkembang dan diminati pasar.
