SUMBAWA BARAT, SIAR POST | Di tengah geliat pembangunan dan potensi ekonomi yang terus tumbuh, suara lirih justru datang dari anak-anak muda di Kabupaten Sumbawa Barat. Mereka bukan tidak mau bekerja. Mereka hanya merasa tak diberi ruang.
“Jujur pengen nangis… saya cuma ingin kerja lagi,” ungkap seorang pemuda dengan nada getir.
Ia bukan tanpa pengalaman. Pernah bekerja selama tujuh tahun, dari 2015 hingga 2022 menjadi security di perusahaan tambang di Sumbawa Barat, kini ia kembali kesulitan berjuang mencari pekerjaan yang tak kunjung datang.
Dengan latar belakang pendidikan SMA dan sertifikat keamanan (security), ia berharap masih punya peluang. Namun realitas berkata lain. Setelah mencoba berbagai cara, termasuk mendatangi dinas terkait, hasilnya tetap sama, belum ada kepastian.
Kini, hari-harinya diisi dengan membantu keluarga sebagai buruh panen. Pekerjaan itu dijalani bukan karena pilihan, tapi karena keadaan. Sementara itu, di sekelilingnya, ia hanya bisa menyaksikan orang-orang datang dan pergi bekerja, bukan warga lokal seperti dirinya.
“Kami ini seperti hanya bisa menonton saja di tanah sendiri,” ujarnya pelan.
Cerita serupa bukan hanya miliknya. Banyak anak muda lain di Sumbawa Barat merasakan hal yang sama. Bahkan mereka yang berpendidikan tinggi, lulusan S1 hingga S2, mengaku tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Dari Taliwang hingga Maluk, keluhan itu terdengar seragam, lowongan kerja ada, tapi aksesnya terasa jauh. Tidak sedikit yang akhirnya memilih merantau ke luar daerah seperti Kalimantan, Sumatra, hingga Papua, demi mencari penghidupan yang lebih pasti.
Sementara yang bertahan, harus menerima kenyataan pahit, bekerja serabutan atau bahkan menganggur.
Data menunjukkan, sekitar 2.600 orang di Sumbawa Barat masih menganggur pada tahun 2025, dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sekitar 3,15 persen. Angka ini memang terlihat rendah secara statistik, namun di lapangan, persoalannya jauh lebih kompleks.
Masalah utamanya bukan sekadar ada atau tidaknya pekerjaan, melainkan ketidaksesuaian antara kebutuhan industri dan kemampuan tenaga kerja lokal. Banyak pekerjaan mensyaratkan keterampilan khusus yang belum dimiliki sebagian masyarakat.
Namun bagi para pencari kerja, persoalan ini terasa lebih dalam dari sekadar angka dan data.
“Kalau memang kami belum punya skill, kenapa tidak dibantu? Beasiswa atau pelatihan misalnya. Jangan dibiarkan,” kata seorang pemuda lainnya.
Harapan pun mulai bergeser. Jika peluang di sektor industri sulit dijangkau, sebagian mulai melirik sektor lain seperti pariwisata. Pembangunan hotel dan fasilitas wisata di wilayah seperti Sekongkang menjadi secercah harapan baru.
“Kalau tidak di industri, mungkin kami bisa kerja di pariwisata. Jadi security juga tidak apa-apa, yang penting ada kerja,” ujarnya.
Di balik semua itu, ada kegelisahan yang lebih besar. Kekhawatiran akan masa depan generasi muda yang terus menganggur, tanpa arah, tanpa kepastian.
“Kalau anak-anak ini tidak dapat pekerjaan, siapa yang tanggung jawab kalau mereka terjerumus ke hal negatif?” ucapnya, mempertanyakan.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya soal investasi dan infrastruktur, tetapi juga tentang siapa yang benar-benar merasakan dampaknya.
Bagi anak-anak muda di Sumbawa Barat, harapan mereka sederhana, bukan meminta lebih, hanya ingin diberi kesempatan untuk bekerja dan hidup layak di tanah mereka sendiri.
Media ini masih mencoba meminta info dan data ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumbawa Barat.
(Red)
