Pemerhati Pariwisata Ari Garmono Soroti Maraknya Kecelakaan di Air Terjun Lombok, Desak Regulasi dan Edukasi Keselamatan

Mataram, SIARPOST — Pemerhati dan peneliti pariwisata, Ari Garmono, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap meningkatnya kasus kecelakaan wisata alam, khususnya di kawasan air terjun di Pulau Lombok yang berujung pada korban jiwa.

Sepanjang tahun 2026 saja, tercatat sedikitnya tiga kejadian kecelakaan fatal di sejumlah destinasi air terjun, antara lain di wilayah Lombok Barat seperti Tibu Ijo Kekeri, Temburun Nanas, dan Batu Tinggi (Bukit Tinggi), serta di Tiu Bombong, Santong, Lombok Utara.

Menurut Ari Garmono, yang juga merupakan peraih penghargaan pariwisata pertama di NTB tahun 2014, terdapat sejumlah faktor utama yang menyebabkan tingginya angka kecelakaan tersebut.

Faktor Penyebab Kecelakaan

Pertama, faktor cuaca yang tidak terprediksi, terutama curah hujan di wilayah hulu aliran air terjun. Kondisi ini kerap memicu air bah atau banjir bandang yang datang secara tiba-tiba dan sangat berbahaya bagi pengunjung.

Kedua, aktivitas berenang di area jatuhan air terjun. Lokasi ini merupakan titik paling berbahaya karena arus air yang kuat dapat menarik tubuh ke dalam pusaran dan menyulitkan korban untuk kembali ke permukaan. Kedalaman kolam yang tidak diketahui secara pasti juga menjadi risiko tambahan.

Khusus untuk kasus di Tiu Bombong, Ari yang dulu dijuluki sebagai Datu Air Terjun ini mengungkapkan bahwa berdasarkan pengamatannya sejak 2012, kedalaman kolam air tidak dapat diprediksi, sehingga sangat berbahaya bagi aktivitas berenang.

Ketiga, rendahnya kesiapan dan pengetahuan pengunjung. Banyak wisatawan yang menyepelekan risiko, tanpa memahami kondisi medan, tidak membawa perlengkapan memadai, serta tidak memiliki pengalaman atau kemampuan navigasi di alam terbuka.

Pengaruh Media Sosial dan Fenomena FOMO

Ari juga menyoroti peran media sosial dalam mendorong perilaku berisiko. Konten-konten yang viral di platform digital cenderung hanya menampilkan keindahan destinasi tanpa memberikan informasi terkait medan sulit, potensi bahaya, maupun tips keselamatan.

Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) membuat banyak orang terdorong mengunjungi lokasi ekstrem hanya demi dokumentasi atau konten, tanpa mempertimbangkan aspek keselamatan.

Lebih memprihatinkan lagi, dalam beberapa kasus kecelakaan, peristiwa tersebut justru dijadikan konten berulang untuk mengejar engagement, tanpa memperhatikan etika dan empati terhadap korban serta keluarga.

Desakan Regulasi dan Standar Keamanan

Menyikapi kondisi tersebut, Ari Garmono mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk segera mengambil langkah serius melalui:

Penyusunan regulasi standar keselamatan wisata alam

Pembuatan SOP (Standar Operasional Prosedur) petualangan

Edukasi mitigasi risiko kepada masyarakat, khususnya generasi muda

Pelibatan instansi terkait seperti BPBD dan Basarnas dalam edukasi teknis

Ia juga mengusulkan agar pemerintah desa dapat mengambil peran melalui penyusunan Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur:

Sistem registrasi pengunjung

Pembatasan jumlah wisatawan

Verifikasi kondisi fisik dan kesiapan pengunjung

Pemeriksaan pengalaman dan perlengkapan

Langkah ini dinilai penting untuk memfilter pengunjung agar hanya mereka yang benar-benar siap yang melakukan aktivitas berisiko tersebut.

Pentingnya Peran Guide dan Kesiapan Biaya

Ari menekankan pentingnya menggunakan pemandu lokal (guide) yang memahami medan secara detail. Selain itu, ia mengingatkan bahwa aspek biaya tidak boleh diabaikan.

“Biaya perjalanan pada akhirnya adalah bagian dari investasi keselamatan. Jangan memaksakan diri berwisata tanpa kesiapan. Kalau tidak punya cukup biaya, lebih baik tidak memaksakan,” tegas Ari.

Ari Garmono berharap seluruh pihak—pemerintah, masyarakat, pelaku wisata, hingga pengguna media sosial—dapat melihat persoalan ini sebagai isu serius.

“Jangan sampai mimpi indah berpetualang justru berakhir menjadi tragedi,” pungkasnya.

Exit mobile version