Penutupan Tiga SPBU Picu BBM Langka, Pemda Lombok Utara Bergerak

Lombok Utara, SIARPOST— Penutupan tiga stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Lombok Utara mulai menunjukkan dampak nyata. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) tak sekadar memicu antrean panjang, tetapi juga menyeret aktivitas ekonomi masyarakat ke titik yang mengkhawatirkan. Kamis 23/04/2026.

Di sejumlah wilayah, petani dan nelayan menjadi kelompok paling terdampak. Ketiadaan BBM membuat mereka harus mengurangi aktivitas, bahkan menghentikan sementara pekerjaan. Perahu tak melaut, mesin pertanian tak beroperasi situasi yang perlahan menggerus penghasilan harian.

Sekretaris Daerah Lombok Utara, Sahabudin, mengakui kondisi tersebut bukan lagi sekadar keluhan sporadis. Laporan yang masuk ke pemerintah daerah meningkat dalam beberapa waktu terakhir, menandakan persoalan ini sudah meluas.

“Keluhan datang dari petani maupun nelayan. Kelangkaan ini tentu berdampak pada perekonomian dan membatasi ruang gerak masyarakat dalam beraktivitas,” ujarnya.

Krisis ini tak hanya soal ketersediaan, tetapi juga harga. Sejumlah warga terpaksa membeli BBM dari pengecer dengan harga di atas ketentuan resmi. Sebagian lainnya harus keluar daerah demi mendapatkan bahan bakar, menambah biaya operasional di tengah kondisi yang sudah sulit.

Penutupan tiga SPBU disebut menjadi faktor utama tersendatnya distribusi. Tanpa suplai yang memadai, rantai pasok BBM di Lombok Utara praktis pincang. Dampaknya terasa cepat, terutama di sektor-sektor yang sangat bergantung pada bahan bakar.

Pemerintah daerah pun mulai bergerak. Satuan Polisi Pamong Praja bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan diterjunkan untuk memantau kondisi di lapangan. Fokusnya tidak hanya memastikan distribusi, tetapi juga mengantisipasi penimbunan dan praktik penjualan dengan harga tak wajar.

“Kami menunggu hasil pemantauan di lapangan sebagai dasar untuk langkah selanjutnya,” kata Sahabudin.

Di sisi lain, harapan besar diarahkan kepada PT Pertamina (Persero). Pemerintah daerah mendorong agar perusahaan tersebut segera mengambil alih pengelolaan tiga SPBU yang saat ini tidak beroperasi. Langkah ini dinilai krusial untuk memulihkan distribusi dan menekan lonjakan harga di tingkat pengecer.

Jika tak segera diatasi, kelangkaan BBM berpotensi memicu efek domino yang lebih luas. Bukan hanya sektor pertanian dan perikanan, tetapi juga perdagangan dan jasa bisa ikut terimbas. Di Lombok Utara, BBM kini bukan sekadar kebutuhanmelainkan penentu bergerak atau tidaknya roda ekonomi masyarakat.(Niss)

Exit mobile version