Lombok Utara,SIARPOST— Harapan menghadirkan layanan intensif untuk bayi dan anak di RSUD akhirnya mendekati kenyataan. Direktur RSUD, drg. Nova Budiharjo, M. Kes, mengungkapkan bahwa ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) dan NICU (Neonatal Intensive Care Unit) ditargetkan mulai beroperasi pada Mei mendatang. Namun di balik target itu, tersimpan persoalan teknis yang sempat menghambat operasional.
Gedung PICU dan NICU sebenarnya telah rampung dibangun pada 2025 melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Tapi, fasilitas vital itu belum bisa langsung digunakan. Masalahnya bukan pada alat atau tenaga medis, melainkan akses penghubung antara gedung lama dan gedung baru yang tidak masuk dalam pembiayaan awal.
“Ini bukan sekadar bangunan kosong yang bisa langsung dipakai. Pasien yang ditangani adalah bayi dalam kondisi darurat, jadi standar akses, keamanan, dan sterilisasi harus benar-benar terpenuhi,” jelas drg. Nova,Senin 04/05/2026
Tanpa akses yang memadai, mobilisasi pasien maupun tenaga medis berisiko mengganggu prosedur penanganan darurat. Situasi ini membuat manajemen rumah sakit harus memutar otak agar fasilitas yang sudah ada tidak terbengkalai.
Alih-alih menunggu tambahan anggaran dari pusat, RSUD memilih bergerak cepat dengan memanfaatkan dana mandiri dari skema BLUD (Badan Layanan Umum Daerah). Langkah ini menjadi bukti bahwa rumah sakit tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah, tetapi juga mampu mengelola sumber daya secara mandiri.
“Kalau menunggu, layanan ini bisa semakin lama tertunda. Sementara kebutuhan masyarakat sangat mendesak,” ujarnya.
Saat ini, pembangunan akses penghubung tengah dikebut dan ditargetkan rampung pada minggu kedua Mei. Setelah itu, proses akan berlanjut ke pemindahan peralatan medis dari ruangan lama ke gedung baru.
Tak berhenti di situ, RSUD juga mengajukan uji mikroba ke tingkat provinsi untuk memastikan seluruh ruangan benar-benar steril sebelum digunakan. Langkah ini dinilai krusial mengingat PICU dan NICU merupakan ruang dengan standar kebersihan paling ketat di dunia medis.
Dari sisi sumber daya manusia, RSUD mengaku sudah siap. Dua dokter spesialis anak telah disiapkan untuk menangani pasien di unit tersebut, menandakan bahwa persoalan utama memang terletak pada infrastruktur, bukan tenaga medis.
Manajemen berharap masyarakat dapat melihat keterlambatan ini dari sudut pandang keselamatan pasien. Bagi mereka, membuka layanan terlalu cepat tanpa standar yang terpenuhi justru berisiko fatal.
“Ini bukan soal cepat atau lambat, tapi soal memastikan setiap bayi yang dirawat mendapat perlindungan maksimal,” tegas drg. Nova.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, Mei akan menjadi titik awal beroperasinya layanan intensif bayi di RSUD sebuah langkah penting dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, khususnya bagi pasien paling rentan.(Niss)
