LOMBOK TENGAH, SIARPOST – Sejumlah awak media mengalami kesulitan saat hendak meliput dan mencari keterangan resmi di Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Lombok Tengah, Senin (18/5/2026). Kedatangan mereka yang bermaksud mengkonfirmasi dugaan pungutan biaya dalam program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (Prona) justru berujung pada penolakan akses dan ketidakjelasan informasi.
Para wartawan datang untuk menanyakan langsung kepada pimpinan terkait kualitas pelayanan publik serta maraknya praktik pungutan biaya yang dianggap tidak wajar di tingkat desa dan kelurahan. Padahal, berdasarkan regulasi yang berlaku, pembuatan sertifikat melalui program Prona seharusnya bersifat gratis dan tidak dipungut biaya sepeser pun.
“Saya datang ke sini ingin mempertanyakan dugaan pungutan biaya Prona yang tidak sesuai aturan. Padahal undang-undang sudah jelas mengatur bahwa layanan ini gratis,” ujar salah satu wartawan yang terlibat.
Insiden ini menjadi sorotan karena terjadi tepat setelah adanya pergantian kepala kantor di BPN Lombok Tengah. Salah satu wartawan mengaku baru kali ini mengalami penghalangan yang begitu ketat selama bertugas.
“Ini baru kali ini saya mengalami hal seperti ini setelah bergantinya pimpinan. Jelas-jelas hal ini sangat mengganggu profesionalisme kami. Saya datang ke sini demi masyarakat dan demi menjalankan tugas jurnalistik,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Menurut keterangan, awak media sebenarnya sudah mendapatkan izin dari petugas keamanan. Namun, saat hendak menemui pejabat terkait, mereka justru disuruh turun dan diminta keluar.
Kejanggalan semakin terlihat ketika tim media mencoba mengonfirmasi keberadaan Kepala BPN. Ajudan kepala dinas menyatakan bahwa atasannya sedang mengikuti rapat (zoom meeting). Namun, informasi yang diperoleh dari staf lain justru menyebutkan bahwa Kepala BPN berada di dalam kantor, bahkan sempat terlihat menuju kamar mandi.
“Saat dikonfirmasi, ajudan bilang Kepala BPN sedang rapat. Padahal informasi dari staf lain menyebutkan beliau ada di dalam. Kami diminta menunggu, namun setelah satu jam lamanya, jawaban yang diberikan tetap sama bahwa beliau sedang rapat dan tidak bisa ditemui,” jelas wartawan tersebut.
