Lombok Utara,SIARPOST – Aktivitas ekonomi di Kabupaten Lombok Utara (KLU) akan dipetakan secara menyeluruh melalui pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Sebanyak 281 petugas diterjunkan untuk menyisir seluruh RT di daerah tersebut, memastikan tidak ada aktivitas usaha yang luput dari pendataan, mulai dari sektor pertanian, perdagangan, jasa, hingga bisnis berbasis online.
Untuk mematangkan pelaksanaan pendataan, Badan Pusat Statistik (BPS) Lombok Utara menggelar pelatihan petugas gelombang kedua Senin 08/06/2026 Di Sire beach golf , Kegiatan ini merupakan lanjutan dari pelatihan gelombang pertama yang telah berlangsung sejak pekan lalu.
Kepala BPS Lombok Utara, Isa, S.E., M.M., menjelaskan bahwa seluruh petugas yang telah direkrut akan ditempatkan di setiap kecamatan dan desa untuk mendata aktivitas ekonomi yang ada di wilayah tugas masing-masing.
“Total petugas kita sebanyak 281 orang, terdiri dari petugas lapangan dan pengawas. Mereka akan disebar ke seluruh RT yang ada di Lombok Utara untuk mendata seluruh aktivitas ekonomi tanpa terkecuali,” ujarnya.
Menurut Isa, cakupan pendataan dalam Sensus Ekonomi 2026 jauh lebih luas dibanding sekadar mendata pelaku usaha formal. Berbagai unit usaha rumah tangga, toko, sekolah, puskesmas, hingga usaha yang beroperasi secara daring juga masuk dalam sasaran pendataan.
“Semua sektor kita data. Mulai dari pertanian, pertambangan, industri, perdagangan sampai jasa. Baik usaha besar maupun usaha rumah tangga, termasuk usaha online. Tidak ada yang kita lewatkan,” tegasnya.
Pendataan tersebut akan dimulai pada 15 Juni 2026 dan berlangsung hingga akhir Agustus 2026. Selama sekitar dua setengah bulan, para petugas akan bekerja berdasarkan target wilayah yang telah ditentukan.
Setiap petugas rata-rata bertanggung jawab mendata sekitar tujuh RT, meskipun jumlah tersebut disesuaikan dengan tingkat kepadatan usaha dan penduduk di masing-masing wilayah. Untuk kawasan dengan aktivitas ekonomi tinggi seperti Gili, jumlah petugas diperbanyak agar seluruh data dapat terkumpul sesuai target waktu.
Isa menegaskan bahwa hasil Sensus Ekonomi nantinya menjadi fondasi penting bagi pemerintah dalam menyusun arah pembangunan dan kebijakan ekonomi daerah.
Selama ini, perekonomian Lombok Utara masih didominasi sektor pertanian. Namun melalui sensus ini, pemerintah berharap dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai potensi sektor-sektor lain yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan.
“Data ini akan menjadi dasar perencanaan pembangunan yang lebih tepat sasaran. Kita ingin mengetahui sektor-sektor apa saja yang bisa menjadi penggerak ekonomi baru di Lombok Utara sehingga pertumbuhan ekonomi yang sudah baik saat ini bisa terus meningkat dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Untuk menjamin kualitas data, BPS Lombok Utara menaruh perhatian besar pada proses rekrutmen dan pelatihan petugas. Mayoritas petugas berasal dari putra-putri daerah, bahkan diutamakan dari desa setempat agar lebih memahami kondisi wilayah yang didata.
Meski demikian, pada beberapa wilayah tertentu seperti kawasan Gili yang membutuhkan banyak petugas, BPS harus mendatangkan tenaga dari desa lain karena keterbatasan jumlah pendaftar di lokasi tersebut.
Dengan strategi tersebut, BPS optimistis seluruh sentra ekonomi, pasar, kawasan wisata, hingga usaha-usaha rumahan dapat terdata secara lengkap. Hasilnya diharapkan menjadi potret paling akurat mengenai kekuatan ekonomi Lombok Utara yang akan menjadi pijakan pembangunan daerah dalam beberapa tahun ke depan.
