LOMBOK, SIAR POST – Penggunaan foto atau visual dalam sebuah pemberitaan dinilai memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat memahami suatu peristiwa.
Karena itu, media diharapkan lebih cermat dalam memilih gambar agar tidak menimbulkan persepsi yang salah terhadap pihak yang tidak terkait.
Perhatian tersebut disampaikan A. Hadi Al Qawariri, mahasiswa IAI Nurul Hakim. Ia menyoroti penggunaan visual yang menampilkan Pondok Pesantren Nurul Hakim dan Kampus IAI Nurul Hakim dalam pemberitaan mengenai kasus kekerasan terhadap santri yang menurutnya tidak memiliki keterkaitan dengan lembaga tersebut.
Menurut Hadi, di era keterbukaan informasi saat ini, masyarakat sering kali membentuk kesan pertama melalui gambar sebelum membaca isi berita secara utuh.
Akibatnya, penggunaan foto sebuah lembaga pendidikan dalam pemberitaan bernada negatif berpotensi memunculkan anggapan bahwa lembaga tersebut memiliki hubungan dengan kasus yang sedang diberitakan.
“Visual memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik. Ketika sebuah foto kampus atau pondok pesantren ditampilkan dalam konteks kasus tertentu, masyarakat bisa saja mengaitkannya dengan peristiwa tersebut, padahal belum tentu ada hubungannya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa setiap lembaga pendidikan memiliki reputasi yang dibangun melalui proses panjang, mulai dari pengabdian para pendidik, pembentukan karakter peserta didik, hingga kepercayaan masyarakat yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
Karena itu, Hadi mengajak media untuk tetap menjalankan prinsip-prinsip jurnalistik secara utuh, tidak hanya dalam penulisan berita, tetapi juga dalam penggunaan ilustrasi atau foto pendukung.
Menurutnya, kebebasan pers merupakan bagian penting dalam demokrasi. Namun, kebebasan tersebut harus selalu disertai dengan tanggung jawab, akurasi, dan keberimbangan agar informasi yang disampaikan tidak merugikan pihak yang tidak memiliki keterkaitan dengan sebuah peristiwa.
Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya bukanlah bentuk penolakan terhadap pemberitaan mengenai kasus kekerasan santri.
Sebaliknya, kritik tersebut merupakan bentuk kepedulian agar informasi yang diterima masyarakat tetap akurat dan tidak memunculkan stigma terhadap lembaga pendidikan yang tidak terlibat.
Hadi juga berharap media melakukan evaluasi terhadap penggunaan visual dalam setiap pemberitaan serta memberikan klarifikasi apabila terdapat gambar yang dinilai tidak sesuai dengan konteks berita.
“Menjaga kebenaran informasi bukan hanya soal menyampaikan fakta, tetapi juga memastikan cara penyampaiannya tidak menimbulkan kerugian bagi pihak lain yang sama sekali tidak berkaitan,” pungkasnya.
