Ia menilai pembentukan Satgas Perlindungan Anak, penyusunan SOP, penguatan kapasitas pengasuh, serta penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan strategi yang tepat untuk membangun budaya saling menghormati di lingkungan pesantren.
“Harapan kami tentu dimulai dari sosialisasi, kemudian pembentukan satgas, penyusunan SOP, penguatan pengasuh, hingga memasukkan konsep Kurikulum Berbasis Cinta di pondok pesantren. Di dalamnya ada materi tentang pencegahan bullying dan kekerasan,” jelasnya.
Menurut Rahmat, beberapa insiden kecil yang berkaitan dengan senioritas memang pernah terjadi, namun masih dapat diselesaikan secara internal oleh pihak pesantren dan tidak berkembang menjadi kasus besar.
“Karena itu pencegahan menjadi sangat penting. Kita ingin membangun sistem yang membuat kekerasan tidak memiliki ruang untuk tumbuh di lingkungan pesantren,” pungkasnya.(Niss)
