Taliwang, SIAR POST – Upaya penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) secara aktif terus diperkuat melalui Gerakan Bersama Tracking Kontak TBC Terintegrasi Cek Kesehatan Gratis atau GEBRAK TBC KSB. Kegiatan dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat melalui Bidang P3KL bersama UPTD Puskesmas Taliwang dan UPTD Puskesmas Taliwang II di Lapangan Lingkungan Bosok, Kelurahan Menala, Kecamatan Taliwang, Jumat (21/08/2026).
Kegiatan dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat, dr. Carlof, M.M.R.S., M.Q.M., Kepala Bidang P3KL beserta jajaran, Kepala UPTD Puskesmas Taliwang II, Penanggung Jawab Klaster IV, Penanggung Jawab Program TBC, TRC Ambulans Puskesmas Taliwang dan Puskesmas Taliwang II, Agen Gotong Royong (AGR), kader Posyandu, serta masyarakat di wilayah Kecamatan Taliwang.
Sebanyak 200 orang mengikuti rangkaian pemeriksaan kesehatan dalam kegiatan tersebut. Pelaksanaan GEBRAK TBC KSB menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan penemuan TBC sekaligus mengintegrasikan kegiatan tracking kontak TBC dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di tengah masyarakat.
GEBRAK TBC KSB sekaligus menjadi salah satu bentuk implementasi SIAGA PRIMA KSB, Sistem Integrasi dan Akselerasi Gerakan Pelayanan Primer Berbasis Risiko Kabupaten Sumbawa Barat. Melalui pendekatan ini, pelayanan kesehatan tidak hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan atau lokasi kegiatan, tetapi bergerak aktif menemukan faktor risiko, menjangkau kelompok sasaran, melakukan pemeriksaan, dan memastikan setiap temuan memperoleh tindak lanjut.
Dalam kerangka SIAGA PRIMA KSB, pelaksanaan GEBRAK TBC mengintegrasikan tiga unsur utama, yaitu Siaga Data, Siaga Sistem, dan Siaga Layanan. Siaga Data digunakan untuk mengenali kasus indeks, kontak serumah, kontak erat, kelompok berisiko, dan wilayah yang membutuhkan intervensi lebih intensif. Siaga Sistem memastikan Dinas Kesehatan, Puskesmas, Pustu, Posyandu, program TBC, CKG, TRC Ambulans, AGR, kader, dan jejaring pelayanan bekerja dalam satu alur yang terkoordinasi. Sementara itu, Siaga Layanan diwujudkan melalui skrining langsung di masyarakat, tracking kontak, pemeriksaan kesehatan, kunjungan rumah, serta tindak lanjut kepada masyarakat yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.
Keterlibatan TRC Ambulans Puskesmas Taliwang dan Puskesmas Taliwang II menjadi bagian penting dalam pola pelayanan aktif tersebut. TRC tidak hanya mendukung kegiatan di lokasi pemeriksaan, tetapi juga melakukan kunjungan rumah kepada sasaran tracking kontak maupun sasaran berisiko yang telah teridentifikasi namun tidak datang ke lokasi kegiatan. Dengan cara ini, hambatan kehadiran masyarakat tidak menyebabkan sasaran berisiko terlewat dari proses skrining dan tindak lanjut.
Pendekatan kunjungan rumah tersebut menunjukkan perubahan pola pelayanan dari menunggu pasien datang menjadi aktif mendatangi sasaran berdasarkan data dan risiko.
Data sasaran yang belum hadir menjadi dasar bagi tim untuk melakukan penjangkauan. Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti pada masyarakat yang datang ke lokasi, tetapi dilanjutkan sampai sasaran prioritas benar-benar dapat dijangkau.
Integrasi tracking kontak TBC dengan CKG penting karena memberikan kesempatan untuk menemukan masalah kesehatan secara lebih luas dalam satu rangkaian pelayanan.
Masyarakat yang mengikuti kegiatan tidak hanya memperoleh skrining TBC, tetapi juga dapat menjalani pemeriksaan kesehatan sesuai sasaran CKG. Sebaliknya, masyarakat yang mengikuti CKG dan ditemukan memiliki gejala atau faktor risiko TBC dapat segera masuk ke dalam alur pemeriksaan TBC.
Pendekatan tersebut memperkuat prinsip pelayanan primer berbasis risiko. Data tidak berhenti sebagai laporan, tetapi digunakan untuk menentukan siapa yang harus dicari, siapa yang harus diperiksa, siapa yang belum terjangkau, siapa yang harus dikunjungi ke rumah, dan intervensi apa yang harus dilakukan. Setiap data harus menghasilkan tindakan pelayanan yang jelas.
Tracking kontak menjadi bagian penting karena kontak serumah dan kontak erat memiliki risiko lebih tinggi terpapar TBC. Melalui penemuan secara dini, masyarakat yang terindikasi dapat segera mendapatkan pemeriksaan lanjutan sesuai standar pelayanan.
Apabila ditemukan kasus TBC, pasien dapat segera memperoleh pengobatan. Kontak yang memenuhi kriteria juga dapat dinilai lebih lanjut untuk memperoleh intervensi pencegahan sesuai ketentuan program TBC.
Pelaksanaan GEBRAK TBC KSB juga memperkuat peran Puskesmas sebagai penggerak pelayanan primer di wilayah kerjanya. Puskesmas tidak hanya memberikan pelayanan di dalam gedung, tetapi mengorganisasikan jejaring hingga tingkat Pustu, Posyandu, TRC Ambulans, kader, AGR, keluarga, dan masyarakat. Pola tersebut sejalan dengan arah SIAGA PRIMA KSB dalam membangun pelayanan primer yang aktif, terintegrasi, berbasis wilayah, dan responsif terhadap risiko kesehatan masyarakat.
Kehadiran TRC Ambulans dalam GEBRAK TBC sekaligus memperluas fungsi TRC sebagai bagian dari sistem pelayanan aktif Puskesmas. TRC tidak hanya merespons kebutuhan kegawatdaruratan, tetapi dapat mendukung penjangkauan pelayanan primer berbasis risiko, khususnya pada sasaran prioritas yang membutuhkan kunjungan langsung ke rumah.
Keterlibatan Agen Gotong Royong dan kader Posyandu juga menjadi bagian penting dalam pendekatan ini. Mereka membantu mengenali kondisi masyarakat, mengajak sasaran untuk melakukan pemeriksaan, membantu tracking kontak, memberikan edukasi, mengidentifikasi sasaran yang belum hadir, serta menghubungkan masyarakat dengan Puskesmas dan TRC Ambulans apabila membutuhkan kunjungan atau tindak lanjut.
Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat partisipasi masyarakat. Penanggulangan TBC tidak dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan saja.
Keluarga dan masyarakat perlu berani melakukan pemeriksaan ketika memiliki gejala atau riwayat kontak, mendukung pasien menyelesaikan pengobatan, serta menghentikan stigma dan diskriminasi terhadap orang yang terindikasi maupun sedang menjalani pengobatan TBC.
Melalui GEBRAK TBC KSB, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat mendorong terbentuknya siklus pelayanan yang utuh, mulai dari identifikasi risiko, penetapan sasaran, mobilisasi masyarakat, skrining, tracking kontak, kunjungan rumah bagi sasaran yang tidak hadir, pemeriksaan lanjutan, pengobatan atau intervensi pencegahan, pemantauan, hingga evaluasi hasil pelayanan.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari jumlah masyarakat yang hadir atau diperiksa di lokasi. Keberhasilan juga dilihat dari berapa banyak sasaran berisiko yang berhasil ditemukan, berapa kontak yang berhasil diperiksa, berapa sasaran yang tidak hadir kemudian berhasil dikunjungi, serta berapa temuan yang memperoleh tindak lanjut sampai tuntas.
GEBRAK TBC KSB menjadi contoh bagaimana berbagai layanan kesehatan dapat diintegrasikan dalam satu gerakan pelayanan primer. Integrasi program TBC, CKG, TRC Ambulans, Puskesmas, kader, AGR, serta jejaring pelayanan membuat intervensi menjadi lebih terarah dan memperluas jangkauan masyarakat yang dapat dilayani.
