/Bandingkan dengan anggaran Mobil Listrik
MATARAM, SIAR POST – Kondisi Rumah Singgah RSUP NTB kembali menjadi sorotan. Fasilitas yang semestinya menjadi tempat beristirahat bagi keluarga pasien rujukan dari berbagai daerah di Pulau Sumbawa dinilai belum memberikan kenyamanan dan kelayakan bagi masyarakat yang sedang menghadapi kondisi sulit.
Sorotan tersebut disampaikan NTB Care setelah menerima sejumlah keluhan dari warga luar Pulau Lombok yang menggunakan fasilitas rumah singgah tersebut.
Keluarga pasien dari Bima, Dompu, Sumbawa, Sumbawa Barat maupun daerah lainnya harus datang ke Mataram untuk mendampingi anggota keluarga yang menjalani perawatan di RSUP NTB. Namun, menurut NTB Care, kondisi rumah singgah justru dinilai memprihatinkan, kurang terawat dan belum mencerminkan fasilitas yang layak bagi masyarakat.
NTB Care menilai keberadaan rumah singgah bukan sekadar persoalan bangunan atau fasilitas tambahan. Bagi keluarga pasien rujukan, tempat tersebut menjadi kebutuhan penting karena mereka harus tinggal sementara di Mataram selama proses pengobatan.
“Ini soal komitmen, bukan soal anggaran,” demikian sorotan NTB Care terhadap kondisi Rumah Singgah RSUP NTB.
Menurut NTB Care, rumah singgah semestinya menjadi salah satu bentuk kehadiran pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, terutama keluarga pasien yang datang dari daerah jauh dengan keterbatasan ekonomi.
NTB Care mempertanyakan apakah bangunan tersebut masih benar-benar difungsikan sebagai rumah singgah yang layak atau sekadar dipertahankan sebagai fasilitas yang secara administratif masih ada.
Jika memang diperuntukkan bagi keluarga pasien, NTB Care menilai standar kelayakan harus menjadi perhatian utama.
“Kalau tidak layak huni, untuk apa dipertahankan?” menjadi salah satu pertanyaan yang disampaikan NTB Care.
Mereka juga mempertanyakan komitmen Pemerintah Provinsi NTB dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan fasilitas pendukung pelayanan kesehatan.
NTB Care juga menyinggung kebijakan pengadaan atau sewa kendaraan listrik untuk kebutuhan pemerintahan yang disebut mencapai puluhan miliar rupiah.
Menurut mereka, persoalan rumah singgah tidak semestinya hanya dilihat dari besar kecilnya anggaran. Yang lebih penting adalah keberpihakan dan komitmen untuk memastikan masyarakat memperoleh fasilitas dasar yang manusiawi.
“Di saat sewa 72 mobil listrik senilai belasan miliar bisa dianggarkan, masa untuk tempat tidur rakyat miskin yang sakit anggarannya tidak ada?” sorot NTB Care.
Pernyataan tersebut menjadi kritik terhadap prioritas pelayanan pemerintah, bukan semata-mata persoalan besaran anggaran.
Minta Rumah Singgah Segera Dibenahi
NTB Care mendesak Gubernur NTB dan manajemen RSUP NTB segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi Rumah Singgah.
Evaluasi tersebut, menurut NTB Care, penting dilakukan untuk memastikan fasilitas yang digunakan keluarga pasien benar-benar memenuhi standar dasar kelayakan.
NTB Care juga meminta pemerintah melakukan perbaikan menyeluruh, mulai dari kebersihan, ventilasi, ketersediaan air bersih, kamar mandi hingga tempat tidur yang layak.
Selain itu, selama proses pembenahan berlangsung, pemerintah diminta menyediakan tempat singgah alternatif yang layak dan gratis bagi keluarga pasien dari luar daerah.
NTB Care menegaskan, keluarga pasien rujukan tidak membutuhkan fasilitas mewah. Mereka hanya membutuhkan tempat yang aman, bersih dan layak untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh dan selama mendampingi anggota keluarganya menjalani pengobatan.
“Rakyat NTB tidak butuh janji menara yang tinggi. Yang dibutuhkan rakyat hari ini adalah tempat yang layak untuk sekadar berbaring saat menjaga keluarganya yang sakit,” tegas NTB Care.
NTB Care berharap persoalan Rumah Singgah RSUP NTB tidak berhenti pada polemik, tetapi segera ditindaklanjuti pemerintah melalui evaluasi dan pembenahan nyata.
Sebab bagi keluarga pasien, rumah singgah bukan sekadar bangunan. Tempat tersebut menjadi ruang untuk bertahan, beristirahat dan tetap mendampingi orang tercinta yang sedang menjalani perawatan jauh dari kampung halaman. (Red)
