Lombok utara SIARPOST— Lapangan sepak bola Desa Tanjung tak hanya menjadi tempat perebutan gelar juara dalam Turnamen U-10 dan U-12 Parus Paras Paros VII, Tahun 2026. Di balik persaingan anak-anak di lapangan, turnamen tahunan tersebut menjadi ruang bagi Desa Tanjung untuk menjaga regenerasi sepak bola sekaligus memperkuat kekompakan masyarakat dari 17 dusun.
Hal itu menjadi salah satu pesan yang ditegaskan Kepala Desa Tanjung, Budiawan, SH, saat menutup rangkaian turnamen pada babak grand final, Selasa, 29/9/2026.
Di hadapan masyarakat, peserta, perangkat desa dan tamu undangan, Budiawan menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen yang telah ikut menyukseskan ajang yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Desa Tanjung ke-131 tersebut.
“Alhamdulillah di sore yang cerah ini, kita bersama-sama dapat hadir kembali salah satu rangkaian acara memperingati dan memeriahkan hari jadi Desa Tanjung yang ke-131,” ujar Budiawan.
Namun bagi Budiawan, kemeriahan turnamen bukan hanya soal siapa yang keluar sebagai juara. Lebih dari itu, kompetisi tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengenal kompetisi sejak usia dini sekaligus menemukan potensi-potensi baru di bidang sepak bola.
Antusiasme peserta pun cukup tinggi. Pada turnamen tahun ini, kategori U-10 diikuti 11 tim, sedangkan kategori U-12 diikuti 7 tim.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sepak bola usia dini masih memiliki daya tarik kuat di tengah masyarakat. Desa Tanjung pun berupaya mempertahankan turnamen tersebut agar tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan terus menjadi wadah pembinaan pemain muda.
Budiawan juga memberikan apresiasi kepada seluruh masyarakat dari 17 dusun yang ikut menjaga suasana turnamen tetap aman dan kondusif.
Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Polsek Tanjung dan Danramil Tanjung yang memberikan dukungan selama pelaksanaan kompetisi.
Menurutnya, semangat kebersamaan tersebut harus terus dipertahankan, bukan hanya ketika turnamen berlangsung, tetapi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Seluruh dusun kita ini harus kompak, bersatu, aman, dan nyaman, damai untuk Tanjung dan Lombok Utara,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Utara Kusmalahadi Syamsuri, S.T., M.T., yang hadir menyaksikan langsung babak grand final, mengapresiasi antusiasme masyarakat terhadap kompetisi sepak bola anak usia dini tersebut.
Ia menilai pertandingan pada babak puncak berlangsung menarik dan menunjukkan semangat anak-anak dalam mengembangkan kemampuan mereka.
“Alhamdulillah hari ini saya menyaksikan puncak Open Turnamen U-10 dan U-12 ini ternyata lebih menarik dan seru,” ujar Kusmalahadi.
Menurutnya, kompetisi usia dini seperti Parus Paras Paros Cup, dapat menjadi salah satu ruang untuk menemukan bibit sepak bola yang nantinya bisa memperkuat Lombok Utara hingga tingkat yang lebih tinggi.
“Semoga dengan latihan terus, anak-anakku semua bisa menjadi pesepak bola Lombok Utara bahkan nasional,” tambahnya.
Apresiasi serupa disampaikan Ketua Askab PSSI KLU, H. Raden Nuna Abriadi, S.IP. Ia menilai Desa Tanjung telah mampu membangun fondasi pembinaan sepak bola usia dini secara berkelanjutan melalui Parus Paras Paros Cup.
“Terima kasih kepada Kepala Desa, yang setiap tahun Desa Tanjung ini melahirkan bibit-bibit sepak bola yang sangat luar biasa,” katanya.
Dalam turnamen tersebut, sejumlah tim juga tampil menonjol hingga berhasil membawa pulang prestasi. Raden Nuna secara khusus memberikan apresiasi kepada Karla yang keluar sebagai juara, serta tim-tim lainnya yang tampil kompetitif.
“Selamat kepada juara Karla, kepada Galaktika luar biasa,” ucapnya.
Budiawan kemudian memberikan selamat kepada seluruh tim yang berhasil meraih prestasi, di antaranya Kapa, Formal, Karla, Trisula, dan Kartika Yudha.
Bagi tim yang belum berhasil menjadi juara, ia berpesan agar tidak berhenti berlatih. Sebab, kompetisi tersebut bukan semata tentang trofi, tetapi juga tentang proses membangun pengalaman dan keberanian anak-anak untuk terus berkembang.
Dengan berakhirnya Parus Paras Paros VII, Desa Tanjung kembali menunjukkan bahwa lapangan sepak bola dapat menjadi ruang pembinaan generasi muda sekaligus menjadi titik temu masyarakat dari berbagai dusun.
Semangat itulah yang ingin terus dipertahankan agar sepak bola di Desa Tanjung tidak hanya ramai ketika turnamen digelar, tetapi memiliki regenerasi pemain yang terus tumbuh dari tahun ke tahun.(Niss)
