SUMBAWA BARAT, SIAR POST | Persoalan warga Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), yang hidup tanpa sambungan listrik sendiri mendapat tanggapan dari Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) KSB, Novrizal Zain Syah, SE., M.Si.
Saat diklarifikasi, Selasa (20/1/2026), Novrizal menegaskan bahwa inti persoalan yang dialami keluarga tersebut bukan semata soal listrik, melainkan status kepemilikan lahan tempat tinggal.
“Kalau dirunut secara logika, masalah utamanya bukan listriknya, tetapi rumahnya masih berdiri di atas lahan orang lain,” jelas Novrizal.
Menurutnya, dalam skema bantuan pemerintah, termasuk program pembangunan rumah dan pemasangan meteran listrik gratis, kepemilikan lahan menjadi syarat utama.
Jika warga memiliki lahan sendiri, maka pemerintah daerah dapat mengusulkan pembangunan rumah sekaligus fasilitas listrik.
Novrizal juga menjelaskan bahwa secara faktual, keluarga tersebut tidak sepenuhnya tanpa listrik, karena masih menggunakan sambungan dari tetangga.
“Kalau substansinya penerangan, dia punya listrik walaupun numpang. Tapi kalau bicara kepemilikan, memang dia belum punya rumah karena masih tinggal di tanah orang,” katanya.
Ia menegaskan bahwa standar persyaratan tersebut diterapkan untuk melindungi penerima bantuan agar tidak dirugikan di kemudian hari.
“Kalau kita bangunkan rumah di lahan orang, lalu suatu saat dia tidak boleh tinggal di situ lagi, itu justru kasihan. Maka syarat kepemilikan lahan memang mutlak,” ujarnya.
Terkait hal ini, Novrizal juga memaklumi pihak desa maupun agen program yang belum dapat mengusulkan bantuan karena kendala administratif tersebut.
Sebelumnya, media ini memberitakan kondisi memprihatinkan satu keluarga di Kecamatan Maluk dengan kepala keluarga A. Rasid, yang hidup di rumah sangat sederhana, kumuh, dan tanpa sambungan listrik sendiri.
Foto kondisi rumah yang dikirim relawan NTBCare memperlihatkan minimnya kualitas hunian dan akses layanan dasar. Selama ini, keluarga tersebut bergantung pada aliran listrik dari rumah tetangga untuk kebutuhan penerangan.
“Hidup tanpa listrik sendiri membuat aktivitas sehari-hari sangat berat, terutama bagi anak-anak untuk belajar,” ungkap salah satu relawan NTBCare.
Kondisi ini menjadi sorotan publik karena memperlihatkan kontras tajam antara kekayaan sumber daya alam KSB, khususnya sektor tambang yang berkontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), dengan realitas sosial sebagian warganya yang masih hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Kepala Desa Pasir Putih, Ahmadi, mengaku telah menindaklanjuti informasi tersebut. Ia membenarkan bahwa warga tersebut tinggal di lahan yang bukan miliknya dan kemungkinan masih menumpang listrik dari tetangga.
