Ambisi “Kabupaten Kurma”, Lombok Utara Siapkan Peta Jalan hingga Lobi Pusat

Lombok Utara, NTB (SIARPOST) – Wacana menjadikan Kabupaten Lombok Utara (KLU) sebagai “Kabupaten Kurma” tak lagi sekadar slogan. Pemerintah daerah mulai bergerak dengan strategi yang lebih terukur, dari penyusunan roadmap hingga membuka jalur dukungan ke pemerintah pusat.

Kepala Dinas Pertanian KLU, Tresnahadi, menegaskan bahwa deklarasi kurma merupakan bentuk komitmen serius pemerintah daerah dalam mengembangkan komoditas yang selama ini identik dengan Timur Tengah tersebut.

“Ini bukan sekadar wacana. Kita ingin Lombok Utara benar-benar menjadi Kabupaten Kurma. Karena itu, langkahnya harus terarah dan tidak boleh asal-asalan,” ujarnya.

Langkah awal yang kini ditempuh adalah menyusun roadmap atau peta jalan pengembangan kurma. Dokumen ini akan menjadi fondasi utama agar pengembangan dilakukan secara sistematis, mulai dari aspek budidaya hingga pemasaran.

Untuk memastikan kualitas perencanaan, Dinas Pertanian menggandeng kalangan akademisi. Salah satunya dengan menjalin komunikasi dengan Universitas Indonesia (UI), yang telah menyatakan kesediaannya membantu penyusunan roadmap tersebut.

“Kita sudah bersurat dan mereka merespons positif. Ini penting supaya pengembangan kurma kita berbasis kajian ilmiah, bukan sekadar coba-coba,” jelasnya.

Namun, ambisi besar itu tak lepas dari tantangan klasik: keterbatasan anggaran daerah. Pemerintah KLU pun menyiapkan langkah lobi ke pemerintah pusat untuk mendapatkan dukungan pembiayaan.

Bupati Lombok Utara disebut akan segera bertemu dengan Menteri Pertanian guna membahas peluang dukungan program ini. Tak hanya itu, sinyal positif juga datang dari Kementerian Agama, khususnya terkait sektor haji dan umrah.

“Pak Menteri Haji dan Umrah pernah datang langsung ke lahan kurma di Jogil. Beliau mengapresiasi dan menyatakan siap mendukung,” kata Tresnahadi.

Dari sisi potensi, Lombok Utara dinilai memiliki modal kuat. Tercatat sekitar 9.000 hektar lahan kering yang dinilai cocok untuk pengembangan tanaman kurma. Jika dimaksimalkan, lahan tersebut bisa menjadi kekuatan baru ekonomi daerah.

Lebih jauh, pemerintah daerah bahkan membidik pasar yang tidak biasa: jamaah haji Indonesia. Kurma produksi Lombok Utara diharapkan bisa menjadi oleh-oleh khas yang menggantikan ketergantungan impor dari Timur Tengah.

“Harapannya, jamaah haji tidak perlu lagi membeli kurma dari luar negeri. Pulang haji, oleh-olehnya sudah kita siapkan dari Lombok Utara,” ungkapnya.

Jika rencana ini berjalan sesuai peta jalan, Lombok Utara berpotensi menjadi sentra kurma pertama di Indonesia sebuah langkah yang bukan hanya mengubah wajah pertanian lokal, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di tengah keterbatasan lahan produktif.(Niss)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *