Ini adalah langkah yang baik untuk diambil guna mengantisipasi krisis energi global. Meskipun perhari ini pemerintah belum menaikkan harga BBM akibat konflik timur tengah antara AS-Israel melawan Iran.
Simulasi umum potensi, peluang dan keuntungan
Produktivitas jagung di Indonesia dalam 3 tahun terkahir sendiri relatif stabil, cendrung meningkat. Walaupun di beberapa daerah ada penurunan produktivitas, namun tidak mempengaruhi akumulasi produktivitas secara nasional.
Setidaknya, kemampuan produktivitas jagung secara nasional berada di angka 15 juta ton. Kalau dikonversi menjadi bioetanol, potensi ini akan membuka peluang positif yang cukup besar dan luas.
Menghemat pengeluaran negara untuk mengimpor minyak dari luar negeri. Sebab 1 juta ton jagung bisa menghasilkan sekitar 400 juta liter bioetanol. Jika produksi jagung nasional bisa mencapai 15 juta ton, maka perkiraanya bisa menghasilkan sekitar 6 miliar liter bioetanol.
Sedangkan, kalau mengacu pada catatan BPS mengenai konsumsi bensin masyarakat Indonesia adalah 35 miliar liter pertahun. Paling tidak secara teori, kita bisa mengurangi besaran volume impor minyak untuk kebutuhan sekitar 2 bulanan, dengan skema pengganti total 100% bioetanol.
Selanjutnya, jika menggunakan skema campuran sebagaimana mandatori E10 atau E5, ini memungkinkan bisa mengcover konsumsi bensin nasional selama satu setengah hingga dua setengah tahun.
Itu baru hitungan produksi jagung atau bioetanol pertahun. Setahun mengcover 2 setengah tahun. Nilai yang cukup menjanjikan. Belum lagi limbahnya, tidak akan terbuang sia-sia. Bisa menjadi pakan ternak, pupuk organik, dan biomassa lainnya.
Selain mengeliminasi impor dan menghasilkan produk sampingan berupa pakan atau pupuk, pengembangan industri ini akan menarik investasi industri otomotif baik dalam negeri maupun luar negeri.
Pembangunan industri yang berkesinambungan ataupun terintegrasi tentu akan menyerap tenaga kerja, menekan angka pengangguran, memperhebat sekolah kejuruan, dan tambahan pendapatan negara dari retribusi pajak perusahaan.
Bagaimana dengan NTB ?
NTB sendiri merupakan salah satu provinsi yang masuk dalam 5 daerah penghasil jagung terbesar di Indonesia, termasuk mewakili Indonesia timur. Berada diangka produktivitas 1,2 juta ton jagung pertahun atau tidak kurang dari 1 juta ton pertahunnya. Artinya tidak kurang dari 400 juta liter Bioetanol yang bisa dihasilkan.
Angka ini bisa mengcover konsumsi bensin di NTB selama 3 sampai 4 bulan dari total konsumsi bensin tahunan, kurang lebih sepertiga konsumsi bensin tahunan dalam bentuk pergantian total 100% bioetanol. Kalau skema penggunaannya campuran E10 atau E5, bisa digunakan selama 2 sampai 5 tahun.
