Lombok Utara, SIARPOST — Perjalanan panjang yang penuh tantangan akhirnya mulai berbuah. Yayasan Chili Community House atau Chili House, yang selama hampir enam tahun mengembangkan metode pendidikan alternatif, kini mulai dilirik luas bahkan hingga sekolah berbasis internasional.
Pendiri yayasan Chilli House, Noor Ain Husein, tak menutupi rasa bangganya. Bagi mereka, ini bukan sekadar pengakuan, tetapi tanda bahwa pendekatan pendidikan yang selama ini diperjuangkan mulai menemukan tempat.
“Perjuangan kami dalam membantu membentuk generasi anak-anak Indonesia yang hebat mulai menjadi kenyataan,” ujarnya.
Metode dan kurikulum yang mereka kembangkan tidak hanya berhenti di konsep. Pendekatan ini sudah diterapkan mulai dari jenjang TK hingga SD, dengan penekanan pada proses belajar yang lebih hidup, kontekstual, dan berorientasi pada perkembangan anak secara menyeluruh.
Yang menarik, Chilli House tidak sekadar menawarkan metode, tetapi juga mendorong perubahan cara pandang para pendidik. Dalam berbagai forum diskusi, mereka memperkenalkan konsep EBOG empat sikap yang dianggap krusial dimiliki guru masa kini: Evolving, Brave, Open-minded, dan Growth mindset.
Bagi Ain, pendidikan bukan soal siapa paling unggul, melainkan bagaimana semua pihak bisa bertumbuh bersama.
“Dunia pendidikan harus menjadi ruang kolaborasi, bukan kompetisi,” tegasnya.
Semangat kolaborasi ini mulai terlihat nyata di lapangan. Salah satunya saat Chili House menjadi narasumber dalam workshop penguatan literasi dan numerasi di SD Negeri 2 Batu Rakit.
Workshop penguatan literasi dan numerasi dalam pembelajaran bagi guru-guru SD Negeri 2 Batu Rakit tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu 11/04/2026, dengan menghadirkan Noor Ain sebagai narasumber utama dalam kegiatan tersebut.
Kepala sekolah, Saipudin, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh rendahnya capaian literasi dan numerasi siswa berdasarkan rapor pendidikan dari tahun ke tahun.
“Workshop ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata di kelas, bukan sekadar teori,” jelasnya.
Digelar dalam dua tahap pada April 2026, pelatihan ini langsung menyentuh praktik. Pada sesi awal, peserta diajak membongkar ulang cara pandang lama melalui materi “Mengapa Literasi & Numerasi Harus Berubah”. Tidak berhenti di situ, narasumber juga menghadirkan buku teks dan materi ajar yang telah diuji langsung kepada siswa.
Guru tidak hanya mendengar, tetapi juga melihat, menyentuh, bahkan mengeksplorasi langsung pendekatan baru tersebut.
Respons peserta pun di luar dugaan. Workshop disebut mampu menggugah cara berpikir guru, sekaligus membuka ruang refleksi tentang metode mengajar yang selama ini digunakan.
Tahap selanjutnya akan lebih menantang: praktik langsung bersama siswa di kelas. Bahkan, pihak sekolah berencana melakukan studi tiru ke Chili House untuk memperdalam implementasi metode tersebut.
Menanggapi kegiatan tersebut, Ain Husein menilai keterbukaan para guru untuk belajar dan berkolaborasi menjadi kunci utama perubahan di dunia pendidikan.
Ia menegaskan, perubahan tidak bisa dilakukan secara individual, melainkan harus melalui ruang-ruang diskusi yang saling menguatkan antar penggiat pendidikan.
“Yang terpenting, kita tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses dan dampak jangka panjang. Dari proses yang baik, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kuat dan berkarakter,” ungkapnya.
Di tengah berbagai tantangan pendidikan, pendekatan seperti yang dibawa Chilli House seolah menjadi angin segar. Fokusnya bukan lagi sekadar hasil akhir, melainkan proses dan dampak jangka panjang.
Sebuah pendekatan yang, jika konsisten diterapkan, berpotensi melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.(Niss)














